digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

2026 VALENTINUS BRIAN JOHAN-ABSTRAK
Terbatas  Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan

Jaringan minimarket di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat, sehingga pengelolaan inventaris di setiap cabang menjadi semakin krusial. Permintaan di masing-masing cabang bervariasi dan sulit diprediksi, sehingga perusahaan perlu menyeimbangkan dua jenis risiko. Kelebihan stok dapat meningkatkan biaya penyimpanan, sementara kekurangan stok dapat mengakibatkan hilangnya penjualan akibat habisnya produk. Kekurangan yang terjadi di satu cabang dapat diatasi dengan memindahkan produk dari cabang lain, namun langkah ini menambah biaya pengiriman. Karena tujuan-tujuan ini saling bertolak belakang, tidak ada satu strategi distribusi yang paling ideal. Oleh karena itu, diperlukan serangkaian rencana alternatif beserta metode untuk memilih opsi yang paling sesuai dengan prioritas pengambil keputusan. Penelitian ini mengembangkan model optimisasi multi-objektif untuk distribusi produk antar cabang ritel yang mencakup enam tujuan, yaitu meminimalkan biaya penyimpanan, biaya kekurangan stok, dan biaya logistik, serta memaksimalkan tingkat layanan siklus (cycle service level/CSL), tingkat pengisian (fill rate/FR), dan perputaran persediaan. Model ini mempertimbangkan kapasitas gudang, ukuran lot pemesanan, serta batas minimum CSL dan FR. Selain itu, permintaan di setiap cabang dimodelkan menggunakan distribusi Binomial Negatif untuk menggambarkan variasi permintaan yang tinggi. Model tersebut kemudian dipecahkan dengan algoritma NS-ACO yang dikembangkan dalam penelitian ini. Algoritma ini membangun solusi menggunakan Ant Colony Optimization dan mempertahankan keragaman pada enam tujuan melalui mekanisme reference-point niching dari NSGA-III. Dalam studi kasus yang melibatkan enam cabang dan seratus produk dalam satu siklus bulanan, NS-ACO mampu menghasilkan 13.519 solusi yang tidak didominasi. Karena proses optimisasi ini dapat dilakukan sekali saja, pengambil keputusan tidak perlu menunggu perhitungan ulang setiap kali preferensinya berubah. Himpunan solusi tersebut kemudian dieksplorasi menggunakan metode interaktif NIMBUS, yang memungkinkan pengambil keputusan untuk menentukan tujuan mana yang ingin ditingkatkan dan mana yang dapat dikorbankan. Setelah tiga putaran klasifikasi tujuan berdasarkan preferensi pengambil keputusan, diperoleh rencana distribusi akhir dengan CSL sebesar 0,99 tanpa adanya kekurangan stok. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa biaya untuk meningkatkan tingkat pelayanan meningkat secara signifikan saat CSL mendekati 1,00. Biaya per poin persentase untuk meningkatkan CSL dari 0,99 ke 1,00 sekitar 22 kali lebih besar dibandingkan dengan peningkatan dari 0,95 ke 0,99. Oleh karena itu, target pelayanan yang sangat tinggi perlu ditetapkan dengan mempertimbangkan biaya tambahan yang terkait.