2026 VALENTINUS BRIAN JOHAN-ABSTRAK
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Jaringan minimarket di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat, sehingga
pengelolaan inventaris di setiap cabang menjadi semakin krusial. Permintaan
di masing-masing cabang bervariasi dan sulit diprediksi, sehingga perusahaan
perlu menyeimbangkan dua jenis risiko. Kelebihan stok dapat meningkatkan biaya
penyimpanan, sementara kekurangan stok dapat mengakibatkan hilangnya penjualan
akibat habisnya produk. Kekurangan yang terjadi di satu cabang dapat diatasi
dengan memindahkan produk dari cabang lain, namun langkah ini menambah biaya
pengiriman. Karena tujuan-tujuan ini saling bertolak belakang, tidak ada satu strategi
distribusi yang paling ideal. Oleh karena itu, diperlukan serangkaian rencana alternatif
beserta metode untuk memilih opsi yang paling sesuai dengan prioritas pengambil
keputusan. Penelitian ini mengembangkan model optimisasi multi-objektif untuk
distribusi produk antar cabang ritel yang mencakup enam tujuan, yaitu meminimalkan
biaya penyimpanan, biaya kekurangan stok, dan biaya logistik, serta memaksimalkan
tingkat layanan siklus (cycle service level/CSL), tingkat pengisian (fill rate/FR), dan
perputaran persediaan. Model ini mempertimbangkan kapasitas gudang, ukuran
lot pemesanan, serta batas minimum CSL dan FR. Selain itu, permintaan di setiap
cabang dimodelkan menggunakan distribusi Binomial Negatif untuk menggambarkan
variasi permintaan yang tinggi. Model tersebut kemudian dipecahkan dengan
algoritma NS-ACO yang dikembangkan dalam penelitian ini. Algoritma ini membangun
solusi menggunakan Ant Colony Optimization dan mempertahankan keragaman pada
enam tujuan melalui mekanisme reference-point niching dari NSGA-III. Dalam studi
kasus yang melibatkan enam cabang dan seratus produk dalam satu siklus bulanan,
NS-ACO mampu menghasilkan 13.519 solusi yang tidak didominasi. Karena proses
optimisasi ini dapat dilakukan sekali saja, pengambil keputusan tidak perlu menunggu
perhitungan ulang setiap kali preferensinya berubah. Himpunan solusi tersebut
kemudian dieksplorasi menggunakan metode interaktif NIMBUS, yang memungkinkan
pengambil keputusan untuk menentukan tujuan mana yang ingin ditingkatkan dan mana
yang dapat dikorbankan. Setelah tiga putaran klasifikasi tujuan berdasarkan preferensi
pengambil keputusan, diperoleh rencana distribusi akhir dengan CSL sebesar 0,99
tanpa adanya kekurangan stok. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa biaya untuk
meningkatkan tingkat pelayanan meningkat secara signifikan saat CSL mendekati 1,00.
Biaya per poin persentase untuk meningkatkan CSL dari 0,99 ke 1,00 sekitar 22 kali
lebih besar dibandingkan dengan peningkatan dari 0,95 ke 0,99. Oleh karena itu,
target pelayanan yang sangat tinggi perlu ditetapkan dengan mempertimbangkan biaya
tambahan yang terkait.
Perpustakaan Digital ITB