BAB 1 Johnes Oswald Gabriel Tibalia
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Johnes Oswald Gabriel Tibalia
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Johnes Oswald Gabriel Tibalia
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Johnes Oswald Gabriel Tibalia
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Johnes Oswald Gabriel Tibalia
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Johnes Oswald Gabriel Tibalia
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Crack initiation merupakan tahapan kritis dalam keruntuhan batuan, penting untuk
memahami kerusakan progresif dan ketidakstabilan massa batuan, khususnya pada
pertambangan bawah tanah dan pembangunan terowongan. Kerusakan internal
batuan diketahui telah dimulai jauh sebelum kekuatan puncak tercapai, sehingga
penggunaan Uniaxial Compressive Strength (UCS) sebagai satu-satunya parameter
desain berpotensi kurang konservatif. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi
ambang crack closure (CC), crack initiation (CI), dan crack damage (CD) pada
batuan beku dan sedimen asal Indonesia, menghitung rasio normalisasinya terhadap
UCS, serta mengevaluasi konsistensi antar metode identifikasi berbasis regangan.
Penelitian dilakukan terhadap dua belas spesimen dari empat litologi, yaitu batuan
sedimen (sandstone, claystone, siltstone) dan batuan beku (andesit), dengan UCS
7,29–99,38 MPa. Data tegangan aksial, regangan aksial, dan regangan lateral
diperoleh dari pengujian UCS, lalu diolah untuk memperoleh regangan volumetrik
dan crack volumetric strain. Ambang CC, CI, dan CD diidentifikasi menggunakan
tiga metode berbasis regangan seperti Lateral Strain Method (LSM), Volumetric
Strain Method (VSM), dan Crack Volumetric Strain Method (CVSM), lalu
dinormalisasi terhadap UCS menjadi rasio Rcc, Rci, dan Rcd. Konsistensi antar
metode dievaluasi menggunakan koefisien variasi (CV) dan selisih rata-rata absolut
antar metode (D). Ambang CC, CI, dan CD berhasil diidentifikasi konsisten pada
seluruh spesimen dengan rata-rata Rcc 0,16–0,18, Rci 0,44–0,46, dan Rcd 0,78–
0,79; seluruh nilai CV di bawah 10% dan D di bawah 0,05, dengan CVSM
umumnya menunjukkan variabilitas terendah. Meskipun UCS batuan beku (60,92–
99,38 MPa) jauh lebih tinggi dari UCS batuan sedimen (7,29–45,26 MPa), rasio
Rcc, Rci, dan Rcd relatif konsisten antar litologi, menunjukkan ambang kerusakan
lebih dikendalikan oleh rasio tegangan terhadap UCS dibandingkan kekuatan
absolut atau litologi. Karena crack initiation teridentifikasi pada 44–46% UCS dan
crack damage pada 78–79% UCS di seluruh litologi, kerusakan internal batuan
telah dimulai jauh sebelum kekuatan puncak tercapai. Nilai CI dan CD dapat
menjadi batas tegangan lebih konservatif dibandingkan UCS semata. Pendekatan
berbasis regangan terbukti andal dan praktis untuk mendukung desain geoteknik
yang lebih representatif dan aman.
Perpustakaan Digital ITB