digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penelitian ini berangkat dari paradoks di Desa Binangga, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, ketika masyarakat tidak berani menyentuh atau mendampingi penderita saat kejang karena keyakinan bahwa kejang dapat menular melalui kontak fisik. Miskonsepsi tersebut berdampingan dengan stigma yang memaknai kejang sebagai tanda dosa atau kutukan, sehingga menciptakan isolasi terhadap penderita baik saat krisis maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan edukasi medis konvensional belum sepenuhnya menjangkau persoalan dalam makna lokal. Penelitian ini menggunakan rapid ethnography untuk memahami dunia moral masyarakat Kaili, termasuk makna kejang, stigma, dan praktik penyembuhan yang melibatkan figur otoritatif seperti dukun serta nilai pengetahuan masyarakat Kaili. Melalui tiga fase, eksplorasi etnografi, workshop, serta refleksi penelitian merancang artefak edukasi berbasis tabletop game. Artefak ini dirancang untuk membentuk respons yang tepat saat kejang sekaligus mendorong perubahan relasi sosial terhadap penderita dalam jangka panjang. Alih-alih menempatkan pengetahuan medis di atas pengetahuan lokal, pendekatan ini menciptakan ruang yang memungkinkan kedua sistem pengetahuan berkontribusi sesuai otoritasnya.