Penelitian ini berangkat dari paradoks di Desa Binangga, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, ketika
masyarakat tidak berani menyentuh atau mendampingi penderita saat kejang karena keyakinan
bahwa kejang dapat menular melalui kontak fisik. Miskonsepsi tersebut berdampingan dengan
stigma yang memaknai kejang sebagai tanda dosa atau kutukan, sehingga menciptakan isolasi
terhadap penderita baik saat krisis maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan edukasi
medis konvensional belum sepenuhnya menjangkau persoalan dalam makna lokal. Penelitian ini
menggunakan rapid ethnography untuk memahami dunia moral masyarakat Kaili, termasuk makna
kejang, stigma, dan praktik penyembuhan yang melibatkan figur otoritatif seperti dukun serta nilai
pengetahuan masyarakat Kaili. Melalui tiga fase, eksplorasi etnografi, workshop, serta refleksi
penelitian merancang artefak edukasi berbasis tabletop game. Artefak ini dirancang untuk
membentuk respons yang tepat saat kejang sekaligus mendorong perubahan relasi sosial terhadap
penderita dalam jangka panjang. Alih-alih menempatkan pengetahuan medis di atas pengetahuan
lokal, pendekatan ini menciptakan ruang yang memungkinkan kedua sistem pengetahuan
berkontribusi sesuai otoritasnya.
Perpustakaan Digital ITB