Abstract
EMBARGO  2029-02-20 
EMBARGO  2029-02-20 
Indonesia mempunyai sebuah komitmen berupa Net Zero Emission di tahun 2060. Komitmen tersebut merepresentasikan transformasi sosio-teknis berskala nasional yang bukan hanya mencakup perubahan sistemik pada tata kelola, mekanisme pembiayaan, dan legitimasi sosial. Walaupun kebijakan memiliki ambisi yang terus meningkat, begitu pula investasi dengan mobilitasnya. Namun, realisasi dari implementasi transisi energi menunjukkan kinerja yang tidak merata. Hal tersebut mengindikasikan adanya kendala struktural yang jauh lebih mendalam. Tesis ini mengembangkan model system dynamics berskala nasional untuk menganalisis bagaimana kredibilitas tata kelola, ketahanan finansial, dan legitimasi sosial berinteraksi secara endogen dalam bentuk lintasan jangka panjang transisi energi Indonesia.
Dengan menggunakan pendekatan mixed methods, penelitian ini mengintegrasikan antara wawasan kualitatif dan kuantitatif. Wawasan kualitatif berupa hasil dari wawancara dengan pakar menggunakan metode semi-terstruktur ke dalam struktur kausal model. Wawasan kualitatif ini kemudian dikombinasikan dengan pemodelan stok-flow yang merupakan wawasan kuantitatif. Model tersebut merepresentasikan interaksi dinamis antara model intera modal investasi, kapasitas sumber daya manusia, kesiapan infrastruktur, kematangan teknologi, implementasi proyek, dan juga kinerja institusional. Selanjutnya, simulasi skenario dilakukan pada kondisi referensi dan tekanan pada kondisi kelembagaan untuk mengevaluasi perilaku sistem melalui prespektif Triple Bottom Line. Ketiga landasan dasar dari Triple Bottom Line adalah finansial, sosial, dan ekologi.
Hasil simulasi menunjukkan adanya ketidak simetrisan struktural yang signifikan antara gangguan pada aspek finansial dengan degradasi pada faktor regulasi. Kontraksi pada aspek finansial menurunkan skala implementasi namun masih mempertahankan dinamika pemulihan gradual. Sebaliknya, pelemahan regulasi menghasilkan efek decoupling yang persisten antara akumulasi modal dan realisasi proyek, di mana modal investasi terus meningkat sementara implementasi proyek mengalami kolaps dalam kurun waktu cepat dan menetap pada ekuilibrium rendah. Rezim ini ditandai oleh adanya reduksi pada loop penguatan implementasi serta dominasi mekanisme amplifikasi risiko dan erosi tata kelola, yang mengindikasikan bahwa kredibilitas tata kelola berfungsi sebagai gerbang struktural utama bagi keberhasilan transisi. Bahkan dalam kondisi ketersediaan finansial yang berkelanjutan, lemahnya koherensi institusional secara sistemik membatasi jalur dekarbonisasi jangka panjang.
Penelitian ini membangun kerapuhan dari regulasi dan inkohesi institusional sebagai kendala struktural endogen, bukan sekadar kondisi latar belakang. Dengan mengoperasionalkan kredibilitas tata kelola, ketahanan finansial, dan legitimasi sosial dalam satu kerangka system dynamics terpadu, studi ini memperluas teori transisi keberlanjutan sekaligus menyediakan kerangka pendukung keputusan yang relevan secara kebijakan untuk mengevaluasi ketahanan strategi transisi di bawah ketidakpastian. Temuan utama menegaskan bahwa pencapaian NZE 2060 tidak dapat hanya bergantung pada mobilisasi modal jangka pendek, melainkan juga memerlukan penguatan tata kelola dan pembentukan kapasitas jangka panjang sebagai fondasi utama transisi energi nasional.
Perpustakaan Digital ITB