Teluk Jakarta mengalami penurunan kualitas air signifikan akibat masukan limbah
dari 13 sungai, sehingga pemantauan oksigen terlarut (DO) sebagai indikator utama
kesehatan ekosistem perairan menjadi sangat krusial. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis dinamika spasial dan temporal DO, memprediksi nilai DO
menggunakan pendekatan machine learning dengan membandingkan performa
Random Forest Regression (RF) dan Gaussian Process Regression (GPR), serta
menganalisis korelasi dan tingkat kepentingan fitur parameter kualitas air laut
terhadap DO. Data yang digunakan adalah pengukuran in-situ dari Dinas
Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta periode 2021–2024 pada 34 titik
pengamatan. Variabel prediktor mencakup suhu, salinitas, pH, turbiditas, klorofil
a, serta koordinat spasial. Pemodelan menerapkan skenario ekstrapolasi waktu (out
of-time validation) dengan membagi data menjadi 270 sampel latih (2021–2023)
dan 90 sampel uji (2024). Hasil penelitian menunjukkan DO berfluktuasi ekstrem
antara 0,40 hingga 8,80 mg/L, dengan nilai terendah konsisten berada di pesisir
barat daya dekat muara sungai berbeban pencemar tinggi, lalu meningkat ke
perairan tengah dan lepas pantai. Pengujian model membuktikan RF lebih tangguh
daripada GPR dengan RMSE 1,52 mg/L, MAE 1,27 mg/L,
69,91%. Rendahnya nilai
0,058, dan akurasi
pada ekstrapolasi masa depan ini tidak
merepresentasikan kegagalan pemodelan, melainkan secara empiris menegaskan
tingginya ketidakstabilan temporal dan anomali ekosistem Teluk Jakarta lintas
tahun. Analisis korelasi menemukan bahwa salinitas dan pH berkorelasi positif
dengan DO. Sementara itu, analisis tingkat kepentingan fitur model menetapkan pH
sebagai prediktor paling dominan (18,50%), diikuti salinitas (16,41%) dan suhu
(15,71%), yang mengonfirmasi bahwa keseimbangan biokimiawi menjadi kendali
utama dinamika DO di perairan Teluk Jakarta. Sebagai eksplorasi tambahan,
pengujian sejumlah skenario reduksi fitur menunjukkan bahwa model RF berbasis
pH, salinitas, dan turbiditas saja menghasilkan performa lebih baik dibandingkan
model utama tujuh fitur, dengan
0,194 dan akurasi 71,39%, mengindikasikan
potensi penyederhanaan parameter pemantauan DO di Teluk Jakarta.
Perpustakaan Digital ITB