ABSTRAK Athallah Afiq Slamet
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
COVER Athallah Afiq Slamet
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Athallah Afiq Slamet
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Athallah Afiq Slamet
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Athallah Afiq Slamet
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Athallah Afiq Slamet
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Athallah Afiq Slamet
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Athallah Afiq Slamet
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Ketimpangan ekonomi antarwilayah di Indonesia masih menjadi tantangan
pembangunan, di mana kebijakan subsidi pemerintah yang bersifat seragam sering
kali kurang efektif karena tidak mempertimbangkan kondisi spesifik tiap daerah.
Penelitian ini mengembangkan konsep bandgap ekonomi, yaitu analogi dari teori
bandgap material dalam fisika semikonduktor, untuk mengukur celah antara kondisi
ekonomi aktual suatu wilayah dengan kondisi ideal yang ingin dicapai. Metode
clustering K-Means++ digunakan untuk mengelompokkan 32 provinsi beserta
kota/kabupaten di Indonesia (data tahun 2022) berdasarkan tujuh indikator
kesejahteraan ekonomi, yaitu upah Minimum Provinsi, pengeluaran rumah tangga,
tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran, Gini Ratio, Indeks Pembangunan
Manusia, dan Produk Domestik Regional Bruto. Hasil pemodelan menghasilkan dua
kelompok wilayah, yaitu cluster dengan kebutuhan subsidi kecil dan cluster dengan
kebutuhan subsidi besar, yang keabsahan pemisahannya dikonfirmasi melalui reduksi
dimensi Principal Component Analysis (PCA). Pendekatan fungsi distribusi Fermi-
Dirac kemudian diterapkan untuk mengubah tingkat kerentanan ekonomi wilayah
menjadi indeks kebutuhan subsidi yang terukur, sehingga penentuan prioritas bantuan
tidak lagi bersifat subjektif melainkan berbasis kuantifikasi data. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi tidak selalu memiliki
bandgap ekonomi kecil, karena kesejahteraan masyarakat turut dipengaruhi oleh
kepadatan penduduk, ketimpangan, dan tekanan biaya hidup. Model ini terbukti
mampu mengidentifikasi wilayah prioritas subsidi secara objektif dan dapat menjadi
dasar bagi perumusan kebijakan pemerataan ekonomi yang lebih tepat sasaran.
Perpustakaan Digital ITB