digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - DANIEL ADITYA SIPAYUNG
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

DAFTAR ISI Daniel Aditya Sipayung
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 Daniel Aditya Sipayung
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Daniel Aditya Sipayung
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Daniel Aditya Sipayung
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Daniel Aditya Sipayung
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Daniel Aditya Sipayung
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 6 Daniel Aditya Sipayung
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA Daniel Aditya Sipayung
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

LAMPIRAN Daniel Aditya Sipayung
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Lapangan RGL merupakan salah satu lapangan penghasil hidrokarbon di Cekungan Jawa Timur Utara dengan potensi yang menjanjikan. Namun, kegiatan pengeboran di lapangan ini sering mengalami permasalahan kestabilan lubang bor seperti tight spot/stall, partial loss/total loss, connection gas, dan packoff/caving. Penelitian ini menggunakan pendekatan model geomekanika satu dimensi berdasarkan data log sumur, laporan pengeboran, laporan uji tekanan formasi, dan uji laboratorium mekanika batuan untuk menentukan tekanan pori, orientasi tegasan horizontal, sifat mekanika batuan, serta besaran tegasan in-situ yang meliputi tegasan vertikal (Sv), tegasan horizontal minimum (Shmin), dan tegasan horizontal maksimum (SHmax). Hasil pemodelan geomekanika ini digunakan untuk mengoptimalkan parameter kestabilan lubang bor, seperti jendela berat lumpur dan arah trajektori pengeboran sumur yang optimal. Berdasarkan model geomekanika satu dimensi pada sumur AD-1 dan AD-3, rezim tegasan in-situ di Lapangan RGL merupakan rezim sesar normal (Sv > SHmax > Shmin) dengan orientasi SHmax timur laut-barat daya. Hasil pemodelan tersebut menunjukkan bahwa Lapangan RGL memiliki satu tren tegasan utama yaitu kondisi tekanan hidrostatik. Pada kondisi tersebut, rata-rata gradien tekanan pori sebesar 0.44 psi/ft, tegasan vertikal sebesar 1.01 psi/ft, tegasan horizontal maksimum sebesar 0.975 psi/ft, dan tegasan horizontal minimum sebesar 0.925 psi/ft. Oleh karena itu, kestabilan lubang bor dapat ditingkatkan dengan menaikkan berat lumpur. Rekomendasi berat lumpur diawali 9.4–10 ppg pada Formasi Lidah; 9.3–9.7 ppg pada Formasi Wonocolo, Ngrayong, dan Tawun; 10.3–11 ppg pada Formasi Rancak dan Tuban; 9.5–10.5 ppg pada Formasi Kujung I, Kujung II, Kujung III, CD Carbonate, dan Basement; serta 10.9–11.5 ppg pada Formasi CD Clastic untuk pengeboran sumur berikutnya. Selain itu, kestabilan lubang bor dapat dioptimalkan dengan menentukan trajektori pengeboran sumur searah orientasi Shmin, yaitu barat laut–tenggara, karena membutuhkan berat lumpur yang lebih rendah dibandingkan arah lainnya.