Pesawat Udara Nirawak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) merupakan platform
strategis dalam berbagai aplikasi modern seperti pemantauan lingkungan,
surveilans, pertanian presisi, dan respons bencana. Keandalan operasi UAV sangat
bergantung pada sistem komunikasi udara-ke-darat (Air-to-Ground/A2G) point-topoint
(PTP) line-of-sight (LOS) yang mampu mempertahankan kualitas transmisi
data secara stabil. Namun, kanal propagasi A2G bersifat dinamis dan dipengaruhi
oleh multipath fading, frequency offset (FO), time offset (TO), serta efek Doppler
akibat pergerakan UAV. Kondisi tersebut menuntut adanya model kanal yang
akurat dan berbasis pengukuran empiris agar kinerja komunikasi UAV tetap andal
pada berbagai skenario.
Kesenjangan pengetahuan terletak pada keterbatasan model kanal teoretis dan
simulatif yang belum merepresentasikan secara utuh karakteristik propagasi nyata
pada UAV kategori Low Altitude Platform (LAP), terutama dalam konteks
parameter Rician K-Factor yang menentukan dominasi komponen LOS terhadap
multipath. Selain itu, belum tersedia pendekatan end-to-end yang menghubungkan
karakterisasi empiris, validasi matematis, simulasi perangkat lunak, emulator
software-defined radio (SDR), serta implementasi sistem komunikasi nyata
berbasis orthogonal frequency-division multiplexing (OFDM).
Penelitian ini menghadirkan sebuah pendekatan terpadu yang memformulasikan
ulang model kanal Rician dalam domain K-Factor, memvalidasinya menggunakan
data empiris UAV LAP, serta mengintegrasikannya ke dalam simulator dan
emulator kanal SDR untuk kemudian digunakan dalam implementasi sistem
komunikasi UAV berbasis OFDM. Untuk menunjukkan sensitivitas dasar sistem,
dilakukan pula simulasi numerik basic OFDM (tanpa ekualisasi) yang
menghasilkan Error Vector Magnitude Root Mean Square (EVM RMS) lebih dari
140% akibat hilangnya ortogonalitas antar-subcarrier. Sementara itu, konfigurasi
advanced OFDM dengan ekualisasi Minimum Mean Square Error (MMSE)
menunjukkan peningkatan performa signifikan dan kemudian digunakan sebagai
fondasi implementasi nyata.
Melalui pengukuran daya terima pada frekuensi 1800 MHz, diperoleh nilai KFactor
empiris pada rentang 2,39–16,3 yang mencerminkan variasi dominasi LOS
pada kanal A2G. Fungsi ekspektasi amplitudo Talukdar kemudian diturunkan ulang
menjadi matching function berbasis K-Factor, yang divalidasi melalui simulator
GNU Radio dengan rata-rata galat 1,18%, serta emulator SDR dengan galat ±0,1%
terhadap hasil simulasi. Implementasi sistem advanced OFDM SDR-to-SDR pada
kondisi di lingkungan anaechoic chamber LOS menghasilkan BER = 0 dan PER =
0% untuk seluruh jarak 1–10 meter dengan tiga nilai K (1, 15, 30). Nilai EVM RMS
rata-rata ? 6% jauh di bawah ambang batas 12,5% untuk modulasi 16-QAM dengan
distribusi EVM per-packet pada jarak 10 meter yang stabil pada kisaran 4–12%.
Analisis interval kepercayaan menggunakan metode Clopper–Pearson
menghasilkan batas atas probabilitas kesalahan BER95=3,66×10?7dan PER95=0,3%,
menegaskan reliabilitas transmisi meskipun tidak ditemukan kesalahan selama
pengujian.
Penelitian ini menyediakan model kanal UAV LAP A2G berbasis distribusi Rician
yang tervalidasi secara empiris, simulator–emulator kanal SDR yang dapat
direplikasi, serta sistem komunikasi data real-time berbasis SDR–OFDM yang
terbukti andal pada kondisi propagasi LOS. Temuan ini memberikan dasar ilmiah
bagi pengembangan sistem komunikasi UAV yang adaptif, serta membuka arah
penelitian menuju integrasi dengan jaringan 5G/6G-NTN dan pengembangan
platform berlatensi rendah berbasis FPGA.
Perpustakaan Digital ITB