digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Energi merupakan faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional. Meskipun transisi menuju energi baru dan terbarukan terus didorong, minyak bumi masih berperan strategis dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Ketahanan energi nasional sangat dipengaruhi oleh kemampuan industri hulu migas dalam mempertahankan dan meningkatkan produksi dari lapangan eksisting. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan terbatasnya penemuan cadangan baru, sebagian besar lapangan minyak di Indonesia telah memasuki fase mature. Optimalisasi aset produksi menjadi strategi penting dalam manajemen energi untuk mendukung efisiensi, keberlanjutan, dan nilai ekonomi jangka panjang. Pengelolaan lapangan minyak tua (mature field) menjadi salah satu tantangan dalam upaya mempertahankan keberlanjutan produksi migas nasional. Pada lapangan mature umumnya memiliki lapisan produktif dengan karakteristik High Quality Reservoir (HQR) dan Low Quality Reservoir (LQR). Produksi selama ini cenderung berfokus pada zona HQR karena lebih mudah dikembangkan. Namun, meningkatnya permasalahan keairan pada HQR serta masih besarnya potensi hidrokarbon yang tersisa pada LQR menjadikan pengelolaan reservoir semakin kompleks. Perbedaan karakteristik dan tekanan antar zona menyebabkan pendekatan optimasi konvensional menjadi kurang efektif, sehingga diperlukan strategi pengembangan yang lebih komprehensif dan terintegrasi untuk memaksimalkan perolehan hidrokarbon dan mempertahankan keberlanjutan produksi lapangan migas tua Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar permasalahan utama yang memengaruhi kinerja produksi lapangan serta menentukan solusi optimasi lapisan LQR yang paling efektif untuk meningkatkan produktivitas reservoir. Metode penelitian dilakukan secara bertahap melalui analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT) untuk mengidentifikasi kondisi internal dan eksternal lapangan, dilanjutkan dengan analisis Fishbone Diagram untuk mengetahui akar penyebab permasalahan. Selanjutnya dilakukan identifikasi risiko menggunakan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) yang diprioritaskan melalui Pareto Analysis guna menentukan faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap penurunan kinerja produksi. Hasil integrasi seluruh metode tersebut digunakan sebagai dasar dalam pemilihan alternatif solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan produksi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan Low Quality Reservoir (LQR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa solusi terpilih yaitu penggunaan Smart Completion Venturi Choke dapat memberikan tingkat efektivitas tertinggi dalam meningkatkan produksi dari lapisan LQR ditinjau dari beberapa aspek seperti keselamatan dan efesiensi biaya operasi. Metode ini telah tervalidasi oleh pekerjaan perbaikan sumur Bono-987 yang mampu memberikan peningkatan produksi minyak (incremental) sebesar 66 bopd. Lebih lanjut, berdasarkan evaluasi potensi sumur, teridentifikasi enam sumur kandidat yang berpotensi untuk diaplikasikan teknologi serupa, dengan estimasi tambahan perolehan minyak mencapai 120.000 barel selama periode monitoring enam tahun. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pendekatan pengambilan keputusan yang mengintegrasikan metode SWOT, Fishbone Diagram, FMEA, dan Pareto mampu mengidentifikasi akar permasalahan secara sistematis serta menghasilkan solusi optimasi yang paling sesuai dengan kondisi lapangan kompleks. Solusi terpilih terbukti memiliki potensi terbaik dalam meningkatkan produksi minyak pada lapangan tua melalui optimisasi reservoir berkualitas rendah (LQR) yang aman, berbiaya rendah dan berkelanjutan guna mendukung target produksi nasional 1 juta barel di tahun 2030