Energi merupakan faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan
pembangunan nasional. Meskipun transisi menuju energi baru dan terbarukan terus
didorong, minyak bumi masih berperan strategis dalam memenuhi kebutuhan
energi nasional. Ketahanan energi nasional sangat dipengaruhi oleh kemampuan
industri hulu migas dalam mempertahankan dan meningkatkan produksi dari
lapangan eksisting. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan terbatasnya
penemuan cadangan baru, sebagian besar lapangan minyak di Indonesia telah
memasuki fase mature. Optimalisasi aset produksi menjadi strategi penting dalam
manajemen energi untuk mendukung efisiensi, keberlanjutan, dan nilai ekonomi
jangka panjang. Pengelolaan lapangan minyak tua (mature field) menjadi salah satu
tantangan dalam upaya mempertahankan keberlanjutan produksi migas nasional.
Pada lapangan mature umumnya memiliki lapisan produktif dengan karakteristik
High Quality Reservoir (HQR) dan Low Quality Reservoir (LQR). Produksi selama
ini cenderung berfokus pada zona HQR karena lebih mudah dikembangkan.
Namun, meningkatnya permasalahan keairan pada HQR serta masih besarnya
potensi hidrokarbon yang tersisa pada LQR menjadikan pengelolaan reservoir
semakin kompleks. Perbedaan karakteristik dan tekanan antar zona menyebabkan
pendekatan optimasi konvensional menjadi kurang efektif, sehingga diperlukan
strategi pengembangan yang lebih komprehensif dan terintegrasi untuk
memaksimalkan perolehan hidrokarbon dan mempertahankan keberlanjutan
produksi lapangan migas tua
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar permasalahan utama yang
memengaruhi kinerja produksi lapangan serta menentukan solusi optimasi lapisan
LQR yang paling efektif untuk meningkatkan produktivitas reservoir. Metode
penelitian dilakukan secara bertahap melalui analisis Strengths, Weaknesses,
Opportunities, and Threats (SWOT) untuk mengidentifikasi kondisi internal dan
eksternal lapangan, dilanjutkan dengan analisis Fishbone Diagram untuk
mengetahui akar penyebab permasalahan. Selanjutnya dilakukan identifikasi risiko
menggunakan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) yang diprioritaskan
melalui Pareto Analysis guna menentukan faktor-faktor yang paling berpengaruh
terhadap penurunan kinerja produksi. Hasil integrasi seluruh metode tersebut
digunakan sebagai dasar dalam pemilihan alternatif solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan produksi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan Low Quality
Reservoir (LQR).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa solusi terpilih yaitu penggunaan Smart
Completion Venturi Choke dapat memberikan tingkat efektivitas tertinggi dalam
meningkatkan produksi dari lapisan LQR ditinjau dari beberapa aspek seperti
keselamatan dan efesiensi biaya operasi. Metode ini telah tervalidasi oleh pekerjaan
perbaikan sumur Bono-987 yang mampu memberikan peningkatan produksi
minyak (incremental) sebesar 66 bopd. Lebih lanjut, berdasarkan evaluasi potensi
sumur, teridentifikasi enam sumur kandidat yang berpotensi untuk diaplikasikan
teknologi serupa, dengan estimasi tambahan perolehan minyak mencapai 120.000
barel selama periode monitoring enam tahun.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pendekatan
pengambilan keputusan yang mengintegrasikan metode SWOT, Fishbone
Diagram, FMEA, dan Pareto mampu mengidentifikasi akar permasalahan secara
sistematis serta menghasilkan solusi optimasi yang paling sesuai dengan kondisi
lapangan kompleks. Solusi terpilih terbukti memiliki potensi terbaik dalam
meningkatkan produksi minyak pada lapangan tua melalui optimisasi reservoir
berkualitas rendah (LQR) yang aman, berbiaya rendah dan berkelanjutan guna
mendukung target produksi nasional 1 juta barel di tahun 2030
Perpustakaan Digital ITB