Peningkatan vertikalisasi ruang perkotaan menimbulkan tantangan mendasar bagi sistem
kadaster fiskal dua dimensi karena sistem tersebut belum mampu merepresentasikan variasi
nilai pada ruang atas tanah, ruang permukaan, dan ruang bawah tanah. Penelitian ini
bertujuan membangun model penilaian ruang untuk Gambar III.2 implementasi kadaster
fiskal 3D melalui integrasi Analytical Hierarchy Process (AHP), pendekatan hedonic
pricing, dan representasi spasial berbasis ruang. AHP digunakan untuk menyusun prioritas
konseptual terhadap 26 sub-parameter yang dikelompokkan ke dalam empat kriteria utama,
yaitu lokasi, risiko bencana, kualitas lingkungan, dan atribut struktural. Penilaian ahli
disintesis secara gabungan dengan tingkat konsistensi yang sangat baik (overall
inconsistency = 0,01).
Validasi empiris dilakukan melalui regresi linier berganda terhadap 407 sampel tanah dan
bangunan di Kota Bandung. Hasil AHP menunjukkan bahwa kriteria lokasi memperoleh
prioritas konseptual tertinggi dalam kerangka Kadaster Fiskal 3D. Namun, hasil regresi
menunjukkan bahwa variabel fisik bangunan, khususnya luas bangunan, merupakan
determinan empiris paling dominan terhadap harga tanah pada wilayah kajian. Dengan
demikian, dominasi lokasi dipahami sebagai hasil pembobotan ahli pada tahap konseptual,
sedangkan dominasi luas bangunan merupakan temuan validasi pasar pada tahap empiris.
Model regresi menunjukkan daya jelaskan yang kuat (Adjusted R² = 0,952; p < 0,001),
tetapi hasil tersebut tetap ditafsirkan secara kritis dengan mempertimbangkan potensi
overfitting, karakteristik spasial Kota Bandung, dan keterbatasan generalisasi nasional.
Temuan ini menegaskan kontribusi konseptual berupa pergeseran dari parcel-based fiscal
cadastre menuju space-based fiscal cadastre. Secara metodologis, penelitian ini
mengintegrasikan pembobotan ahli, validasi pasar, dan pemodelan ruang 3D sebagai dasar
pengembangan sistem kadaster fiskal yang lebih adil, akurat, dan adaptif terhadap
kompleksitas perkotaan Indonesia. Model yang dihasilkan tidak menempatkan satu
variabel sebagai penentu tunggal, melainkan membedakan peran parameter konseptual,
parameter empiris, dan struktur representasi ruang dalam membangun penilaian fiskal
berbasis ruang 3D.
Perpustakaan Digital ITB