digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Vadelino Dio Maulana
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Perairan Laut Aru merupakan wilayah produktif strategis bagi perikanan nasional Indonesia, namun dinamika kesuburannya yang tinggi membawa risiko eutrofikasi yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Keterbatasan akses dan tingginya biaya pengambilan data lapangan secara konvensional melatarbelakangi kebutuhan sistem pemantauan berbasis penginderaan jauh yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung indeks warna air dan konsentrasi klorofil-a menggunakan penginderaan jauh, menentukan tingkat eutrofikasi dan analisis spasial serta temporalnya, serta menganalisis mekanisme pengaruh parameter fisik kimia dan dinamika atmosfer terhadap fluktuasi status trofik di Laut Aru. Data citra satelit periode 2021—2025 diintegrasikan dengan data nutrien (Nitrat dan Fosfat), suhu permukaan laut (SPL), dan curah hujan, kemudian diolah melalui parameter bio-optik Forel-Ule Index (FUI) dan klorofil-a pada tujuh titik pengamatan, serta dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan Spearman. Hasil penelitian menunjukkan gradien kesuburan secara spasial yang jelas. Hasil FUI pesisir Papua 4 hingga 7 dan FUI Kepulauan Aru berskala 5 hingga 6 (beberapa titik skala 9) memiliki status oligotrofik hingga mesotrofik akibat beban hara dari daratan, dengan rata-rata konsentrasi klorofil-a 3,62 mg/m3. Sementara itu, wilayah laut lepas berada pada kondisi oligotrofik dengan FUI 2 hingga 6 dan klorofil-a sebesar 1,56 mg/m3. Secara temporal, produktivitas memiliki pola dua puncak. Puncak pertama terjadi pada monsun timur hingga peralihan II (September dan Oktober) akibat input massa air dari fenomena upwelling Laut Banda yang menurunkan SPL hingga 24,23 oC. Puncak kedua terjadi pada monsun barat akibat input nutrien terestrial dari curah hujan. Korelasi positif antara FUI dan klorofil-a diperoleh koefisien sebesar 0,729. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat oligotrofik dan mesotrofik di pesisir Laut Aru dipengaruhi oleh gabungan dinamika atmosfer dan input terestrial, sedangkan di laut lepas dikendalikan oleh dinamika fisik oseanografi. Parameter FUI terbukti efektif sebagai indikator status trofik berbasis penginderaan jauh untuk pemantauan kualitas air di wilayah Laut Aru.