Krisis pengelolaan sampah di Indonesia yang ditandai oleh menurunnya proporsi
sampah terkelola hingga 31,1% pada 2025 menyebabkan mayoritas Tempat
Pemrosesan Akhir (TPA) masih bergantung pada sistem open dumping yang
merusak lingkungan. Teknologi MASARO (Manajemen Sampah Zero)
menawarkan solusi melalui proses insinerasi bersuhu 800–1200 °C yang mereduksi
volume sampah hingga 95%, namun menghasilkan panas terbuang (waste heat)
dalam jumlah besar yang belum dimanfaatkan. Sementara itu, proses produksi
biopestisida MASARO konvensional bersifat padat energi dan potensi pemanfaatan
pelarut selain air untuk mengoptimalkan efisiensi ekstraksi bahan aktif organik
belum pernah diuji dalam sistem MASARO. Penelitian ini bertujuan merancang
dan mengevaluasi sistem reaktor berpemanas yang memanfaatkan panas terbuang
insinerator MASARO serta mengevaluasi rekayasa kondisi ekstraksi guna
meningkatkan kualitas produk biopestisida.
Penelitian dilakukan melalui tiga tahap utama menggunakan pendekatan
Computational Fluid Dynamics (CFD) berbasis ANSYS Fluent: (1) Evaluasi
komparatif agitator menggunakan model turbulensi RNG K-? dan Discrete Phase
Model (DPM), (2) Evaluasi komparatif geometri tangki dan jenis fluida pemanas,
serta (3) simulasi kinetika ekstraksi padat-cair (leaching) senyawa aktif yang
direpresentasikan menggunakan cerberin dari biomassa bintaro dengan variasi jenis
pelarut dan temperatur menggunakan User Defined Function (UDF).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi agitator Pitched Blade Turbine
Down-Pumping (PBTD) memberikan kinerja terbaik di antara variasi yang diuji
untuk penenggelaman padatan terapung (solid drawdown) dengan konsumsi daya
77,48–96,38 W dan sistem pemanas dengan fluida air pada geometri Internal
Helical Coil memberikan koefisien perpindahan panas tertinggi dengan pressure
drop terendah (8,7 Pa) serta distribusi temperatur yang seragam. Berdasarkan hasil simulasi, resistansi difusi intra-partikel bersifat lebih dominan
dalam mengendalikan kinetika ekstraksi cerberin dari buah bintaro (Cerbera
odollam) dibandingkan resistensi konvektif. Dominasi difusi internal ini
dikonfirmasi melalui serangkaian uji sensitivitas parameter kinetika dan morfologi.
Variasi porositas (0,1 ? ? ? 0,95) serta variasi diameter partikel pada rentang fraksi
cacahan (dp ? 0,1 mm hingga 3 cm) secara konsisten mempertahankan fraksi
resistansi internal pada > 97 % terhadap resistansi keseluruhan. Transisi dominasi
resistansi internal hanya memungkinkan pada partikel mikro (dp < 0,1 mm) yang
secara operasional sulit diterapkan pada pencacahan buah bintaro yang keras dan
berserat. Sementara itu, uji sensitivitas kelarutan antarmuka (interface)
membuktikan bahwa perubahan nilai (Csurf - Cbulk) hanya menggeser nilai
konsentrasi maksimum yang dapat dicapai dan tidak memengaruhi waktu yang
diperlukan untuk mencapai konsentrasi kelarutan permukaan selama menggunakan
Koverall tetap (temperatur ekstraksi, kecepatan pengadukan, dan pelarut yang sama).
Oleh karena itu, peningkatan temperatur dari 30 ?, 40 ?, hingga titik didih
masing-masing pelarut hanya memberikan perbedaan massa cerberin terekstraksi
sebesar 0,48 – 2,1%. Penggunaan pelarut organik (methanol atau ethanol) pada
temperatur ruang (30 ?) mampu menghasilkan prediksi massa cerberin terekstrak
sebesar 68,69 mg untuk ethanol dan 125,86 mg untuk methanol dari 92 kg buah
bintaro tanpa memerlukan energi pemanasan tambahan. Nilai tersebut lebih tinggi
dari pelarut air yang memperoleh 7,91 – 8,08 mg pada rentang temperatur 30 – 100
?. Berdasarkan hasil simulasi massa cerberin terekstraksi tersebut, pemanfaatan
panas akan lebih efisien jika digunakan untuk proses pemekatan dan recovery
pelarut. Meskipun demikian, penggunaan pelarut organik pada temperatur titik
didihnya tetap relevan untuk memfasilitasi ekstraksi senyawa aktif lainnya seperti
nikotin dari tembakau (Nicotiana tabacum), sitral dan geraniol dari serai
(Cymbopogon citratus), serta azadirachtin dari daun nimba (Azadirachta indica)
yang menunjukkan peningkatan perolehan seiring kenaikan temperatur operasi.
Pada akhirnya, pemilihan jenis pelarut dan temperatur ekstraksi merupakan
keputusan trade-off antara efisiensi proses dan aspek keamanan-regulasi. Seluruh
temuan dalam penelitian ini diperoleh melalui pemodelan numerik dan simulasi
komputasional sebagai studi perancangan awal, sehingga validasi eksperimental
secara langsung pada skala laboratorium maupun uji mortalitas biologis tetap
diperlukan untuk pengembangan dan verifikasi lebih lanjut.
Perpustakaan Digital ITB