digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Fakhrul Fuady
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

COVER Fakhrul Fuady
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 1 Fakhrul Fuady
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 2 Fakhrul Fuady
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 3 Fakhrul Fuady
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 4 Fakhrul Fuady
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 5 Fakhrul Fuady
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

PUSTAKA Fakhrul Fuady
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

LAMPIRAN Fakhrul Fuady
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Pengembangan PLTP tidak jarang memunculkan tantangan sosial, terutama persepsi terkait manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Uap dari sumur produksi sering melebihi kebutuhan pembangkit, kelebihan uap ini dibuang ke lingkungan sebagai panas buang. Uap berlebih ini dapat dimanfaatkan untuk pengeringan. Buah kopi yang tidak segera diproses kurang dari 24 jam akan mengalami penurunan mutu, sementara pengeringan tradisional yang mengandalkan panas matahari sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Tantangan ini yang menjadi dasar sistem pengering berbasis panas buang sebagai bentuk CSR bersifat berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan teknis dan ekonomi pemanfaatan panas buang PLTP Kamojang untuk pengeringan kopi pada tiga kelompok tani terdekat dari Unit II Indonesia Power. Penelitian dimulai dengan menganalisis perpindahan panas uap sepanjang pipa, merancang konfigurasi penukar panas yang menghasilkan udara pengering sesuai kebutuhan operasi pengering. Kedua, kinerja pengering menggunakan perangkat lunak CFD dan memvalidasinya terhadap model numerik pengeringan lapis tipis yang telah dilakukan pada studi terdahulu. Ketiga, menentukan Kelompok Tani yang paling sesuai untuk penerapan sistem ini melalui analisa multi kriteria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa temperatur akhir uap pada Kelompok Tani Wanoja, Gunung Kamojang, dan Bersama Harapan Warga berturut-turut adalah 138,3°C (5,64 bar), 126,9°C (5,18 bar), dan 121,8°C (4,97 bar). Simulasi CFD metode natural, dryer mampu menampung 185,29 kg buah kopi dengan waktu pengeringan 30,53 jam, sedangkan metode full wash dapat menampung 183,65 kg dengan waktu pengeringan 24,53 jam. Hasil analisa multi kriteria menunjukkan Kelompok Tani Wanoja menjadi kandidat paling layak, kemudian Kelompok Tani Bersama Harapan Warga dan Gunung Kamojang. Pemanfaatan panas buang PLTP untuk pengeringan kopi bagi masyarakat sekitar dapat menjadi model CSR berkelanjutan energi terbarukan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.