digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Nabila Syahidah
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Ketergantungan Indonesia pada GNSS asing menyebabkan kerentanan terhadap risiko gangguan layanan selama krisis geopolitik. Untuk meningkatkan kedaulalan teknologi, penelitian ini mengusulkan dan mengoptimalkan Sistem Satelit Navigasi Regional (RNSS) hibrida LEO-GEO yang mencakup wilayah Indonesia (6?LU– 11?LS, 95?BT–141?BT). Arsitektur yang diusulkan menggabungkan konstelasi Walker LEO berinklinasi rendah dengan hosted payload pada satelit komunikasi geostasioner Indonesia. Perancangan konstelasi diformulasikan sebagai masalah optimasi multi-objektif untuk meminimalkan rata-rata GDOP, memaksimalkan availability, dan meminimalkan biaya deployment. Optimasi dilakukan menggunakan algoritma NSGA-II di MATLAB dengan ukuran populasi sebanyak 200 individu selama 500 generasi. Variabel yang dioptimalkan meliputi ketinggian orbit (500–1.200 km), inklinasi (0?– 25?), jumlah bidang orbit (1–12), dan satelit per bidang (1–48). Optimasi tersebut menghasilkan 70 solusi Pareto yang terkonsentrasi pada ketinggian 1.105–1.120 km, inklinasi 10?–15?, dan 2–5 bidang orbit. Konfigurasi Walker 36/2/1 yang terpilih terdiri dari 36 satelit LEO pada ketinggian 1.115,77 km dan inklinasi 13, 84?, serta dilengkapi dengan satu satelit GEO pada 113?BT. Pada simulasi selama 168 jam, konstelasi ini mencapai rata-rata GDOP sebesar 2,82, availability 96,00%, dan biaya deployment sebesar 118,6 juta USD. Validasi menggunakan Ansys STK mengonfirmasi model yang dikembangkan dengan galat di bawah 1%. Dibandingkan dengan arsitektur RNSS GEO/GSO Indonesia yang diusulkan sebelumnya oleh Noer dkk., konstelasi yang diusulkan ini menurunkan rata-rata GDOP sebesar 16,8% sembari mempertahankan availability regional yang tinggi.