Vehicular Ad Hoc Networks (VANETs) menghadapi tantangan kinerja signifikan dalam
skenario lalu lintas padat di mana kongesti dan interferensi menuntut adaptasi parameter
secara cerdas. Disertasi ini mengusulkan kerangka kerja dual-agent Q-learning untuk
IEEE 802.11bd VANETs yang secara bersama mengoptimalkan daya transmisi, pemilihan
Modulation and Coding Scheme (MCS), dan adaptasi laju beacon pada konfigurasi
antena sektoral dan omnidireksional.
Kerangka kerja dual-agent menggunakan dua agen RL terpisah yang mengurangi kompleksitas
state-action space dari 3,3 miliar menjadi 15,44 juta entries (reduksi sekitar
99,5%) dengan memory footprint 62 MB. Penelitian mengembangkan tiga kontribusi
utama: testbed programmable 100 Gbps berbasis P4 switch dan SDN controller yang
mencapai throughput 95–100 Gbps; framework dual-agent Q-learning untuk optimisasi
cross-layer yang dapat dijalankan pada OBU komersial; dan simulator CANVAS yang
mengimplementasikan standar IEEE 802.11bd.
Simulasi dengan 20–90 kendaraan pada highway 500 meter menunjukkan perbaikan pada
seluruh metrik utama. Kerangka dual-agent mencapai pengurangan latensi sekitar 50%
(36,0 ms terhadap 71,6 ms pada omnidireksional dan 31,7 ms terhadap 68,3 ms pada
sektoral) dan penurunan daya pancar sekitar 55% (9,0 dBm dan 8,7 dBm terhadap 20,0
dBm) dibandingkan konfigurasi statis. Berbeda dengan dugaan awal bahwa penghematan
daya harus dibayar dengan keandalan, PDR justru naik dari 74,3% menjadi 86,4% pada
omnidireksional dan dari 74,9% menjadi 88,5% pada sektoral, sedangkan throughput naik
dari 5,66 Mbps menjadi 9,92 Mbps dan dari 6,07 Mbps menjadi 11,28 Mbps. Perolehan
PDR berkisar 5 percentage points pada 20 kendaraan hingga 16 percentage points pada
90 kendaraan, dan tetap berada di atas ambang minimum SAE J2945/1 sebesar 85% pada
seluruh rentang kepadatan yang diuji. Dual-agent konvergen dalam 8.500 episodes, 32%
lebih cepat dari single-agent tereduksi (12.500 episodes) dan lebih cepat dibanding DQN
(14.000–35.000 episodes), PPO (18.000 episodes), serta SAC (20.000 episodes).
Analisis komparatif antena pada pengaturan zero-gain menunjukkan konfigurasi sektoral
unggul pada throughput, latensi, beban kanal, dan efisiensi daya, tetapi tidak pada keandalan:
selisih PDR antara kedua konfigurasi antena tidak terbukti signifikan (p = 0,42).
Pada perbandingan lintas algoritma di kepadatan 60 kendaraan, PPO unggul tipis pada
keempat metrik jaringan; klaim yang dipertahankan penelitian ini karena itu bukan superioritas
kualitas kebijakan, melainkan kelayakan penerapan pada perbedaan kualitas yang
kecil, yaitu inferensi 5 ?s tanpa GPU berbanding 180–210 ?s dengan GPU.
Kontribusi utama meliputi formulasi MDP dual-agent untuk optimisasi cross-layer, testbed
100 Gbps untuk REN, simulator CANVAS open-source, dan analisis komprehensif tradeoff
antara konfigurasi antena, strategi optimisasi, dan persyaratan aplikasi VANET.
Perpustakaan Digital ITB