COVER Adinda
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Adinda
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Adinda
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Adinda
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Adinda
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Adinda
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Adinda
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN Adinda
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Polietilen tereftalat (PET) termasuk polimer yang umum digunakan di industri, khususnya bahan
botol minuman sekali pakai, dan berkontribusi terhadap permasalahan sampah plastik karena
sifatnya yang persisten. Pada 2024, 19,76% sampah di Indonesia merupakan plastik dan 6,68%
di antaranya berupa PET. Pengolahan konvensional, seperti pencacahan, berpotensi
menghasilkan mikroplastik, sedangkan pengolahan kimiawi menambah beban limbah yang perlu
ditangani. PETase dapat menjadi alternatif karena mampu menghidrolisis PET menjadi senyawa
penyusun yang lebih sederhana melalui proses yang lebih ramah lingkungan. Pada penelitian ini,
dilakukan evaluasi pertumbuhan E. coli BL21(DE3) pembawa plasmid pET22b(+) dalam
produksi PETase pada sistem fed-batch dengan sirup jagung tinggi fruktosa (HFCS) sebagai
sumber karbon. Kultivasi dilakukan pada medium terdefinisi dengan induksi IPTG pada jam
ke-7,5, lalu dilanjutkan dengan feeding setiap 4,29 jam sekali untuk mempertahankan sumber
karbon sekitar 10 g/L. Parameter yang diukur berupa OD600, pH, DO, kadar HFCS setelah
feeding, kadar total protein dalam fraksi ekstraseluler, dan aktivitas enzim. Data dianalisis
menggunakan ANOVA serta uji lanjutan berupa Tukey Honestly Significant Difference Test pada
tingkat kepercayaan 95%. Hasil menunjukkan peningkatan OD600, penurunan pH, dan
kecenderungan peningkatan DO. Profil HFCS setelah feeding belum konsisten dipertahankan pada
10 g/L, dengan konsentrasi rata-rata berkisar antara 4,37-11,16 g/L. Konsentrasi HFCS meningkat
hingga 11,16 g/L pada jam ke-17,38, kemudian menurun hingga 4,37–5,41 g/L pada fase akhir
fermentasi, yang mengindikasikan adanya pemanfaatan sumber karbon selama pertumbuhan sel.
Konsentrasi protein ekstraseluler pada kondisi feeding berada pada 0,067–0,106 mg/mL, lebih
rendah dibandingkan kontrol tanpa feeding sebesar 0,092–0,216 mg/mL. Meskipun demikian,
hasil uji aktivitas PETase menggunakan substrat analog pNPB menunjukkan aktivitas yang lebih
tinggi, yaitu 54,48–84,42 U/mg crude protein, dibandingkan kontrol sebesar 4,96–22,94 U/mg crude
protein. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem fed-batch berbasis HFCS berpotensi
mendukung produksi PETase. Namun, sampel uji dalam penelitian ini masih berupa ekstrak
kasar, penelitian lanjutan diperlukan untuk memperoleh enzim yang lebih murni dan
mengevaluasi aktivitas PETase secara langsung terhadap substrat PET.
Perpustakaan Digital ITB