digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - ADI RANO
PUBLIC Open In Flipbook Irwan Sofiyan

COVER - Adi Rano
PUBLIC Open In Flipbook Irwan Sofiyan

BAB 1 - Adi Rano
PUBLIC Open In Flipbook Irwan Sofiyan

BAB 2 - Adi Rano
PUBLIC Open In Flipbook Irwan Sofiyan

BAB 3 - Adi Rano
PUBLIC Open In Flipbook Irwan Sofiyan

BAB 4 - Adi Rano
PUBLIC Open In Flipbook Irwan Sofiyan

BAB 5 - Adi Rano
PUBLIC Open In Flipbook Irwan Sofiyan


LAMPIRAN - Adi Rano
PUBLIC Open In Flipbook Irwan Sofiyan

Perawatan geometri jalan rel diperlukan dalam mencegah gangguan operasional kereta api seperti goyangan keras dan rel spaten. PT Kereta Api Indonesia (Persero) saat ini menggunakan Kereta Pemeliharaan Jalan Rel (KPJR) tipe Multi Tie Tamper (MTT) untuk memulihkan nilai Track Quality Index (TQI) yang melebihi toleransi. Namun, pola perawatan eksisting masih belum sepenuhnya bisa mengoptimalkan ketersediaan window time dan jarak lokasi segmen yang perlu dirawat, sehingga berdampak pada inefisiensi biaya operasional perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model optimasi penjadwalan perawatan geometri jalan rel pada lintas jalur hulu dan tunggal antara Cibungur – Rendeh serta membandingkan biayanya terhadap jadwal perawatan eksisting. Metode yang digunakan dalam memodelkan permasalahan ini adalah Mixed Integer Linear Programming (MILP). Fungsi objektif dari model ini adalah meminimalkan total biaya operasional perawatan yang mencakup komponen biaya persiapan, biaya perjalanan KPJR, dan biaya kegiatan tamping. Batasan yang digunakan diantaranya meliputi ketersediaan window time di tiap petak lintas, frekuensi tamping, serta skenario reposisi stasiun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model usulan berhasil mengoptimalkan rute perjalanan dan durasi kerja KPJR. Berdasarkan simulasi jadwal perawatan sepanjang tahun 2025, jadwal eksisting membutuhkan biaya sebesar Rp345.851.800,00, sedangkan jadwal usulan hasil optimasi dengan perubahan rute urutan kerja serta skenario reposisi stasiun keberangkatan dan kedatangan KPJR, diperoleh sebesar Rp316.628.950,00. Dengan demikian, penerapan model MILP ini mampu memberikan penghematan biaya sebesar 8,45% atau sebesar Rp29.222.850,00 dibandingkan metode penjadwalan eksisting.