Program konversi minyak tanah ke Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kg telah
memberikan manfaat signifikan terhadap efisiensi biaya subsidi energi nasional.
Namun, hingga saat ini terdapat 101 kabupaten di 19 provinsi yang belum
melakukan program konversi, terutama di wilayah kepulauan dan Indonesia timur.
Pelaksanaan konversi menghadapi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur
distribusi serta perlunya penyeimbangan kepentingan pemerintah sebagai pemberi
subsidi, PT X sebagai penyelenggara distribusi, dan masyarakat sebagai penerima
manfaat. Penelitian ini bertujuan merancang jaringan rantai pasok LPG dan skema
alokasi subsidi yang optimal.
Penelitian dilakukan dalam dua subtopik yang saling terintegrasi. Subtopik pertama
menggunakan Mixed Integer Linear Programming (MILP) untuk menentukan
konfigurasi jaringan rantai pasok yang meminimalkan total biaya investasi dan
operasional distribusi selama periode 2027–2036 dengan mempertimbangkan
keputusan pembangunan fasilitas, pemilihan moda transportasi, dan alokasi aliran
produk. Hasil biaya distribusi dari model tersebut digunakan sebagai parameter
pada subtopik kedua, yaitu optimasi alokasi subsidi menggunakan Multiple
Objective Linear Programming (MOLP) untuk menentukan pembagian biaya yang
optimal antara pemerintah, PT X, dan masyarakat.
Hasil optimasi menunjukkan total biaya sistem sebesar Rp13,49 triliun yang terdiri
atas CAPEX sebesar Rp3,15 triliun dan NPV OPEX sebesar Rp10,34 triliun. Model
merekomendasikan pengembangan kapasitas depot LPG eksisting tanpa
pembangunan depot baru serta pembangunan 19 SPBE baru. Selanjutnya, optimasi
alokasi subsidi menghasilkan skema pembagian biaya terpilih dengan menurunkan
kerugian biaya PT X sebesar 92,17%, dari Rp14,69 juta/MT menjadi Rp1,15
juta/MT, serta mengurangi kesenjangan beban biaya antara Pemerintah dan
Masyarakat sebesar 96,38%, dari Rp93,60 juta/MT pada metode eksisting menjadi
Rp3,38 juta/MT.
Perpustakaan Digital ITB