BAB 1 - Maudy Dian Zhafirah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 - Maudy Dian Zhafirah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 - Maudy Dian Zhafirah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 - Maudy Dian Zhafirah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 - Maudy Dian Zhafirah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA - Maudy Dian Zhafirah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Abu sekam padi merupakan residu biomassa yang dihasilkan dari pembakaran
sekam padi dan memiliki kandungan silika yang cukup tinggi (± 87-97%) sehingga
berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber sekunder SiO2 selain mineral kuarsa.
Silika dalam abu sekam padi dapat diekstraksi menggunakan larutan NaOH untuk
membentuk natrium silikat, yang selanjutnya dipresipitasi melalui netralisasi
dengan asam untuk menghasilkan silika. Silika yang diperoleh kemudian dapat
digunakan sebagai prekursor dalam produksi silikon melalui reduksi
magnesiotermik menggunakan magnesium sebagai agen pereduksi, diikuti dengan
pemurnian melalui pelindian asam. Silikon memiliki potensi sebagai material anoda
baterai ion-litium karena kapasitas spesifik teoritisnya yang tinggi, yaitu sekitar
3579 mAh/g, jauh lebih tinggi dibandingkan anoda grafit konvensional.
Penelitian pemanfaatan abu sekam padi untuk menghasilkan logam silikon telah
dilakukan sebelumnya oleh berbagai peneliti. Dari penelitian yang dilakukan,
belum dilakukan studi optimasi proses ekstraksi silika dengan larutan NaOH untuk
memperoleh kadar ekuivalen SiO2 maksimum dalam produk sintesis dan evaluasi
proses konversi silika menjadi silikon berdasarkan efisiensi konversi SiO2 serta
performa silikon produk sintesis sebagai anoda baterai ion-litium. Oleh karena itu,
dalam penelitian ini, optimasi proses ekstraksi silika dilakukan menggunakan
metode Taguchi untuk menentukan kombinasi level faktor yang memberikan
respons kadar ekuivalen SiO2 tertinggi serta mengidentifikasi faktor yang paling
berpengaruh melalui ANOVA. Silika yang diperoleh pada kondisi ekstraksi terpilih
kemudian digunakan sebagai prekursor dalam proses reduksi magnesiotermik
untuk menghasilkan silikon. Silikon yang diperoleh dari kondisi terbaik kemudian
dipreparasi menjadi material aktif anoda baterai ion-litium dan dievaluasi kinerja
elektrokimianya dalam baterai ion-litium setengah sel.
iii
Abu sekam padi yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Jawa Timur,
Indonesia. Sampel awal abu sekam padi yang digunakan dalam penelitian ini
mengandung 90,30% SiO2 dengan kadar Si sebesar 42% berdasarkan analisis X-ray
fluorescence (XRF). Analisis proksimat menunjukkan kadar abu sebesar 88,6% dan
fixed carbon sebesar 7,16%, sedangkan analisis LECO menunjukkan kadar karbon
total sebesar 8,96%. Hasil XRF juga menunjukkan keberadaan beberapa unsur
pengotor, antara lain Fe, Al, K, Ca, dan Mg, yang berpotensi memengaruhi
kemurnian produk pada tahapan berikutnya. Pra-perlakuan untuk mengurangi kadar
karbon dilakukan melalui pemanasan pada temperatur 750 °C selama 2 jam, yang
menurunkan fixed carbon menjadi sekitar 0,13% dan meningkatkan kadar abu
menjadi 99,79% berdasarkan analisis proksimat. Tahap selanjutnya adalah
penghilangan pengotor melalui pelindian menggunakan larutan HCl 2 M pada
temperatur 90 °C selama 2 jam.
Dalam penelitian ini ditentukan kondisi optimum ekstraksi silika dari abu sekam
padi, diidentifikasi faktor proses yang paling berpengaruh terhadap kadar ekuivalen
SiO2 dalam produk, ditentukan kondisi optimum konversi silika menjadi silikon
melalui reduksi magnesiotermik, serta dievaluasi kinerja elektrokimia silikon yang
dihasilkan sebagai material anoda baterai ion-litium. Optimasi ekstraksi silika
dilakukan menggunakan metode Taguchi dengan empat faktor yang divariasikan,
yaitu konsentrasi NaOH, temperatur, waktu ekstraksi, dan rasio solid-to-liquid
(S/L).
Berdasarkan analisis rasio signal-to-noise (S/N) dengan kriteria larger-the-better,
kondisi optimum ekstraksi diperoleh pada konsentrasi NaOH 3 M, temperatur 80
°C, waktu ekstraksi 180 menit, dan rasio S/L 15 g/100 mL, yang menghasilkan
kadar ekuivalen SiO2 sebesar 98,59%. Hasil analysis of variance (ANOVA)
menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH merupakan faktor yang memberikan
kontribusi terbesar terhadap respons, yaitu 79,14%. Karakterisasi XRD
menunjukkan bahwa produk silika memiliki karakter amorf yang diindikasikan oleh
pola difraksi lebar pada rentang 2? sekitar 22–23°, dengan berkurangnya puncak-
puncak fasa kristalin pengotor pada kondisi ekstraksi dengan konsentrasi NaOH
yang lebih tinggi.
Silika hasil ekstraksi selanjutnya dikonversi menjadi silikon melalui reduksi
magnesiotermik yang diikuti dengan pemurnian menggunakan pelindian asam.
Kondisi terpilih proses konversi diperoleh pada temperatur 750 °C selama 240
menit dengan efisiensi konversi sebesar 83,48%. Pada kondisi tersebut, dihasilkan
silikon dengan kadar 98,99% yang selanjutnya digunakan sebagai material aktif
anoda baterai ion-litium setengah sel. Hasil cyclic voltammetry menunjukkan
terbentuknya puncak litiasi dan delitiasi yang relatif konsisten selama tiga siklus
awal, yang mengindikasikan reversibilitas elektrokimia material. Pengujian
galvanostatic charge-discharge (GCD) menghasilkan kapasitas spesifik awal
sekitar 1407 mAh/g dengan initial Coulombic efficiency (ICE) sebesar 92,70%.
Namun, kapasitas menurun menjadi sekitar 54 mAh/g setelah 50 siklus, yang
menunjukkan bahwa silikon hasil sintesis masih memiliki stabilitas siklus yang
rendah dan memerlukan modifikasi lebih lanjut untuk meningkatkan kinerjanya
sebagai material anoda.
Perpustakaan Digital ITB