digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Investor asing yang memiliki eksposur pada saham Indonesia menghadapi dua sumber risiko sekaligus: volatilitas indeks LQ45 dan depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, kekhawatiran yang semakin menguat akibat arus keluar modal asing dari Indonesia yang berkelanjutan sepanjang 2025. Penelitian ini mengkaji apakah emas dan perak, yang diakses melalui exchange-traded fund berdenominasi USD yaitu GLD dan SLV, mampu meningkatkan kinerja risk- adjusted portofolio saham Indonesia dari perspektif investor individu berbasis USD. Menggunakan Modern Portfolio Theory dengan Sharpe Ratio sebagai kriteria optimalisasi, data mingguan Januari 2014 hingga Desember 2024 (569 observasi) digunakan untuk membentuk portofolio optimal di bawah batasan long-only dan batasan anggaran, yang kemudian divalidasi secara out-of-sample pada Januari hingga Desember 2025 (51 observasi) menggunakan strategi buy-and-hold dan rebalancing semi-tahunan. Dekomposisi return LQ45 (USD) ke dalam komponen ekuitas dan komponen mata uang menunjukkan bahwa depresiasi rupiah saja menghapus 54,85% dari return yang dihasilkan pasar saham Indonesia dalam mata uang lokal, mengonfirmasi risiko mata uang sebagai pendorong utama rendahnya return dalam denominasi USD. Hasil in-sample menunjukkan bahwa emas mendominasi: portofolio Maximum Sharpe Ratio mengalokasikan 5,39% pada LQ45 (USD) dan 94,61% pada GLD (Sharpe Ratio 0,4156), sementara perak memperoleh bobot nol karena secara mean-variance didominasi oleh emas dan berkorelasi tinggi dengannya (0,7938). Validasi out-of-sample mengonfirmasi temuan ini bahkan dalam kondisi yang menguntungkan perak: meskipun perak menghasilkan return 143,70% pada 2025 dibandingkan emas 63,57%, Sharpe Ratio portofolio LQ45-perak (2,8221) tetap berada di bawah portofolio LQ45-emas (2,8342), dan rebalancing semi-tahunan meningkatkan keduanya dengan biaya transaksi yang dapat diabaikan. Dibandingkan dengan benchmark 100% LQ45, indeks S&P 500, Treasury bill tiga bulan, dan portofolio equal-weight naif, portofolio yang dioptimalkan secara substansial mengungguli posisi yang tidak dioptimalkan serta kedua acuan eksternal, namun tidak mengungguli aturan equal- weight pada tahun ketika kinerja perak yang luar biasa menguntungkan alokasi apa pun yang memilikinya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa emas, bukan perak, merupakan diversifier yang lebih unggul bagi investor individu berbasis USD yang memiliki eksposur pada saham Indonesia berdasarkan kriteria Sharpe Ratio. Investor direkomendasikan mengadopsi alokasi minimum- variance (sekitar 30% LQ45, 70% GLD) dengan rebalancing berkala, karena alokasi maximum- Sharpe sangat sensitif terhadap estimasi expected return yang mendasarinya.