Material yang mengalami laju regangan tinggi, seperti pada benturan, tabrakan, atau ledakan,
seringkali menunjukkan perilaku yang berbeda dibandingkan pada pengujian kuasi-statis
standar. Split Hopkinson Pressure Bar, ketika diadaptasi untuk pembebanan tarik melalui
konfigurasi pembebanan Direct Tensile Bar, disebut sebagai Split Hopkinson Tensile Bar
(SHTB). Metode ini belum terstandarisasi, khususnya terkait geometri spesimen.
Penelitian ini menggunakan analisis elemen hingga (finite element analysis) pada Abaqus
CAE untuk mengkaji metode pembebanan Direct Tensile Bar yang diterapkan pada
spesimen dogbone subsize ASTM E8 dengan berbagai variasi ketebalan. Studi konvergensi
mesh (mesh convergence) dilakukan, dan model divalidasi melalui pemeriksaan
kesetimbangan gaya (force equilibrium) serta perbandingan dengan teori perambatan
gelombang (wave propagation) dan model material Johnson Cook.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketebalan spesimen secara jelas memengaruhi laju
regangan, kesetimbangan gaya, dan kecepatan spesimen dalam mencapai kondisi
pembebanan yang stabil. Overshoot tegangan pada tahap awal muncul di seluruh kasus, yang
teridentifikasi berasal dari panjang gauge (gauge length) spesimen dan bukan akibat
kesalahan simulasi, sementara kenaikan suhu akibat pemanasan adiabatik tetap dapat
diabaikan.
Temuan ini mengonfirmasi bahwa metode pembebanan Direct Tensile Bar secara numerik
valid untuk pengujian tarik pada laju regangan tinggi, meskipun spesimen subsize ASTM E8
kurang sesuai untuk pengujian ini karena penampang gauge-nya yang relatif besar, sehingga
menunjukkan perlunya geometri spesimen dengan skala yang lebih sesuai.
Perpustakaan Digital ITB