BAB 1 Fierdy Akasya
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Fierdy Akasya
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Fierdy Akasya
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Fierdy Akasya
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Fierdy Akasya
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Fierdy Akasya
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Nikel merupakan logam strategis yang digunakan dalam industri baja tahan karat, paduan,
pelapisan, katalis, dan material baterai. Indonesia memiliki posisi penting dalam industri nikel
karena didukung oleh sumber daya dan cadangan yang didominasi bijih laterit. Bijih saprolit
umumnya diolah melalui jalur pirometalurgi konvensional, tetapi proses tersebut masih
menghadapi tantangan konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca. Hidrogen sebagai reduktan
menjadi alternatif untuk menghasilkan proses reduksi beremisi lebih rendah. Penelitian ini
bertujuan menganalisis tahapan reduksi non-isotermal, menentukan parameter kinetika reduksi
isotermal, serta mengevaluasi evolusi fasa dan morfologi bijih nikel saprolit dalam atmosfer 5%
H2–95% N2.
Sampel bijih saprolit dikeringkan, diremuk, digerus, diayak hingga fraksi ?200 mesh, lalu
dikalsinasi pada 700 °C selama 4 jam. Produk kalsinasi direduksi menggunakan
thermogravimetric analyzer dengan massa sampel 300 mg dan laju alir gas 250 mL/menit.
Percobaan non-isotermal dilakukan hingga 900 °C pada laju pemanasan 10 °C/menit, sedangkan
percobaan isotermal dilakukan pada 500, 600, 700, 800, dan 900 °C selama 3 jam. Data perubahan
massa dikonversi menjadi derajat reduksi, kemudian dianalisis menggunakan metode isokonversi
isotermal dan pemodelan kinetika. Model difusi tiga dimensi Jander digunakan untuk
mengevaluasi interval reduksi aktif. Evolusi fasa dianalisis menggunakan X-ray diffraction
(XRD), sedangkan morfologi dan distribusi unsur diamati menggunakan scanning electron
microscopy–energy dispersive spectroscopy (SEM–EDS).
Reduksi non-isotermal menunjukkan dua tahap utama. Tahap 300–600 °C menghasilkan
kehilangan massa aktual 3,15% dibandingkan nilai teoritis 4,43% dan diinterpretasikan berkaitan
dengan reduksi awal spesies nikel serta transformasi hematit menuju magnetit dan/atau oksida
antara. Tahap 600–900 °C menghasilkan kehilangan massa aktual 4,90% dibandingkan nilai
teoritis 7,75% dan berkaitan dengan reduksi lanjutan oksida besi menuju Fe melalui FeO. Pada
kondisi isotermal, kenaikan temperatur mempercepat reduksi awal, tetapi tidak selalu
meningkatkan derajat reduksi akhir. Energi aktivasi tampak meningkat dari 28,07 kJ/mol pada ?
? 0,1 menjadi 69,45 kJ/mol pada ? ? 0,3, kemudian berada pada 63,34–63,50 kJ/mol hingga ? ?
0,5. Model Jander memberikan energi aktivasi tampak 57,1–73,7 kJ/mol pada 500–800 °C,
sedangkan nilai negatif pada 800–900 °C menunjukkan ketidaksesuaian model untuk mekanisme
suhu tinggi. XRD dan SEM–EDS menunjukkan magnetit pada 500 °C, fayalit sejak temperatur
rendah, taenite pada 700 °C, serta penguatan fasa silikat dan koalesensi mikrostruktur pada 800–
900 °C yang membatasi reduksi lanjutan.
Perpustakaan Digital ITB