digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

dan sejak pelarangan ekspor bijih 2014 dan 2019 menempuh hilirisasi secara agresif. Namun selama 2017–2024 muncul paradoks fiskal: nilai ekspor melonjak ~848% hingga Rp 1.260,58 triliun, tetapi rasio penerimaan negara terhadap nilai ekspor turun dari 27,21% (2018) ke 11,59% (2024) jauh di bawah tolok ukur global (World Bank 20–25%, Chile 40%, Norwegia 78%). Akar masalahnya diduga fragmentasi data dan lemahnya koordinasi antar-lembaga, bukan hilirisasi itu sendiri. Penelitian ini bertujuan (1) mengidentifikasi faktor integrasi data penyebab rendahnya penerimaan negara; (2) merancang Nickel Value Chain Integrated Monitoring System (NVIMS) untuk mendeteksi anomali dan ketidaksesuaian pencatatan; serta (3) membangun prototipe dan mensimulasikan kesenjangan penerimaan yang dapat ditangkap, dengan mengkaji lima determinan (Export Value, Smelter Margin, Production Volume, Downstream Level, dan repatriasi DHE). Metode memadukan data panel 112 perusahaan nikel 2017–2024 (896 firm year observations) dari enam institusi dan harga LME/SHFE serta tujuh wawancara, dengan rekonsiliasi silang, Fishbone, dan simulasi what-if. Hasil penelitian mengidentifikasi 94 anomali dan empat ketidaksesuaian sistemik lintas lembaga, volume produksi, ekspor (?Rp 28 triliun/tahun), nilai ekspor realisasi DHE (?USD 5,7 miliar/Rp 85,5 triliun), pendapatan SPT nilai ekspor (?Rp 86,8 triliun/tahun; effective tax rate perusahaan asing hanya 5,99% terhadap tarif 22%), serta royalti actual normatif (?Rp 36 triliun/tahun) total kebocoran ?Rp 198,2 triliun per tahun dari sepuluh perusahaan terbesar. NVIMS tujuh lapis (37 modul, 122 tools) dirinci lengkap pada Layer 1–3 yang memenuhi 21 dari 36 sel Zachman. Simulasi tiga skenario memproyeksikan penerimaan menjadi Rp 63,6/79,5/95,4 triliun (rasio 20/25/30%) dan akumulasi Rp 150–250 triliun dalam lima tahun (ROI >800×; Perpres No. 76/2025). Kontribusi penelitian: model holistik government value capture, dataset terkomprehensif (112 perusahaan, delapan tahun) pertama untuk industri nikel Indonesia, serta penggunaan ganda Zachman Framework menjembatani Enterprise Architecture dan Extractive Industry Fiscal Governance.