digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Konsumsi bahan bakar fosil di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, namun peningkatan tersebut belum diimbangi oleh kapasitas produksi dan ketersediaan pasokan dalam negeri. Kondisi ini menyebabkan pemerintah masih harus memenuhi kekurangan pasokan melalui impor gasoline. Salah satu upaya untuk mengurangi impor gasoline adalah penerapan kebijakan pencampuran gasoline dengan etanol menjadi biogasoline. Implementasi Biogasoline E2.5 (97,5% gasoline dan 2,5% etanol) memerlukan perencanaan rantai pasok yang optimal karena proses pencampuran etanol–gasoline membutuhkan penentuan lokasi hub, lokasi blending, serta konfigurasi distribusi yang memengaruhi biaya total sistem. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model optimasi rantai pasok Biogasoline E2.5 menggunakan metode Mixed Integer Linear Programming (MILP) pada studi kasus PT X. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi keputusan strategis dan taktis dalam perancangan jaringan rantai pasok biogasoline, yang meliputi pemilihan hub, penentuan status depot sebagai inline blending depot atau end depot, penentuan kapasitas inline blending, serta penentuan aliran gasoline, etanol, dan biogasoline antar lokasi di seluruh wilayah Indonesia dengan tujuan meminimalkan biaya total. Model secara eksplisit menggunakan variabel biner untuk menentukan lokasi blending dan menjaga keseimbangan aliran produk dalam jaringan distribusi. Mengingat jumlah depot yang sangat besar, penyelesaian model dilakukan menggunakan pendekatan MILP berbasis branch and bound dan cut generation untuk meningkatkan efisiensi pencarian solusi optimal dan mempercepat waktu komputasi. Hasil optimasi menunjukkan adanya trade-off antara biaya investasi infrastruktur berupa pembangunan dan modifikasi tangki sebesar USD 38.722.201,18 dan biaya distribusi serta transportasi sebesar USD 267.339.009,38 per tahun. Analisis sensitivitas terhadap demand biogasoline, biaya transportasi, dan biaya pembangunan tangki menunjukkan bahwa ketiga parameter tersebut berpengaruh signifikan terhadap konfigurasi jaringan dan biaya total sistem. Model yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat bantu pengambilan keputusan dalam evaluasi skenario desain rantai pasok Biogasoline E2.5 yang efisien dan relevan.