digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Disertasi ini mengkaji suatu paradoks yang bersifat persisten dalam ekosistem kewirausahaan Indonesia. Meskipun ketersediaan modal meningkat, program akselerator semakin meluas, dan dukungan kebijakan publik terus diperluas, tingkat pembentukan perusahaan berbasis inovasi tetap berada pada level yang rendah secara struktural. Berangkat dari paradoks tersebut, penelitian ini mengembangkan dan memajukan Teori Umpan Balik Dinamis Dalam Pembentukan Kewirausahaan di Budaya yang Menghindari Kerugian dan Jangka Pendek Orientasnya (Dynamic Feedback Theory of Entrepreneurial Formation in Loss-Averse, Short-Horizon Cultures), yang menjelaskan capaian kewirausahaan sebagai hasil dari interaksi antar loop umpan balik, proses akumulasi, keterlambatan struktural, serta penarik legitimasi kultural, alih-alih sebagai akibat dari pembentukan niat linear, akumulasi keterampilan semata, atau perluasan input ekosistem. Penelitian ini menggunakan desain metode campuran berurutan dengan mengintegrasikan autoetnografi longitudinal yang dilakukan pada periode 2018–2024, triangulasi antropologis, dan pemodelan dinamika sistem. Analisis autoetnografis mengidentifikasi pola-pola kultural, pendidikan, dan kelembagaan yang berulang dalam membentuk perilaku kewirausahaan, yang kemudian diformalkan ke dalam diagram loop kausal serta struktur stok dan aliran. Model-model tersebut disempurnakan dan divalidasi secara iteratif melalui konsultasi pakar, pengujian reproduksi perilaku, analisis dinamika sistem kualitatif, serta prosedur validitas antropologis, dan selanjutnya digunakan untuk evaluasi skenario kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi berbasis pendidikan, akselerator, korporasi, maupun pendanaan mampu meningkatkan partisipasi kewirausahaan dalam jangka pendek, namun tidak mengubah lintasan jangka panjang pembentukan perusahaan berbasis inovasi kecuali apabila dinamika kultural dan legitimasi mengalami pergeseran secara simultan. Nilai-nilai bersama untuk inovasi berfungsi sebagai penarik kultural dominan yang menentukan apakah kapabilitas kewirausahaan dapat diterjemahkan menjadi tindakan kewirausahaan yang berkelanjutan, sehingga menempatkan budaya sebagai mekanisme pengatur yang aktif, bukan sekadar konteks latar belakang. Partisipasi korporasi memperkuat momentum kewirausahaan hanya ketika keselarasan kultural telah tercapai, sementara kebijakan pemerintah dan pendanaan berperan sebagai penguat sekunder, bukan sebagai penggerak utama. Penelitian ini dibatasi oleh ketergantungannya pada kedalaman autoetnografis dibandingkan generalisasi statistik serta oleh keterbatasan data yang lazim dalam konteks negara berkembang, namun tetap menawarkan wawasan struktural yang dapat ditransfer ke ekonomi berstabilitas tinggi lainnya, di mana perilaku kewirausahaan sangat dipengaruhi oleh legitimasi dan norma karier yang tertanam secara kultural.