digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PT Cakrawala Indopac, produsen produk water treatment PAC, memiliki operating profit margin di bawah kompetitor meski masih memenuhi standar. Bahan baku impor utamanya, Alumina, dibeli dalam USD sehingga terpapar risiko fluktuasi kurs dan harga komoditas, sementara kebijakan diversifikasi penyuplai (maksimal 80% volume per transaksi ke satu penyuplai) harus tetap dipenuhi. Penelitian ini bertujuan mengoptimasi biaya pengadaan Alumina di bawah ketidakpastian tersebut sekaligus memenuhi kebijakan diversifikasi. Penelitian mengintegrasikan peramalan demand berbasis data curah hujan BMKG, peramalan harga kurs dan komoditas alumina berbasis LSTM, model Mixed Integer Programming (MIP) multi-skenario untuk jadwal, kuantitas, penyuplai, dan waktu pembayaran optimal, serta algoritma genetika sebagai post-processing untuk memenuhi kebijakan diversifikasi. Analisis sensitivitas mengidentifikasi ambang kelayakan pada lima parameter kritikal. Hasil menunjukkan bahwa model menghasilkan penghematan biaya pengadaan Alumina tahunan sebesar 4%, yang memberikan kenaikan operating margin sebesar ~6.8% sambil mematuhi kebijakan maksimal alokasi ke satu penyuplai sebesar 80% pada seluruh transaksi dengan biaya tambahan Rp979,4 juta/tahun. Namun, model juga menemukan batas kelayakan jika demand naik 1.51 kali, lead time melebihi 22 hari, atau kapasitas gudang turun di bawah 303 ton, sementara batas kelayakan kurs dan harga komoditas jauh lebih longgar, 5.06 kali, menandakan risiko operasional lebih kritis dibanding risiko finansial. Temuan ini menunjukkan risiko operasional sebagai prioritas mitigasi utama manajemen.