Fenomena squeezing merupakan tantangan geoteknik utama dalam konstruksi terowongan pada massa batuan lemah yang ditandai oleh deformasi plastis masif akibat tegangan in-situ yang tinggi, di mana penanganannya sering kali mengacu pada pedoman klasifikasi metode konstruksi bertahap (Hoek, 2001). Namun, pedoman tersebut cenderung berfokus pada aspek geometri penggalian semata dan belum secara eksplisit memperhitungkan pengaruh jarak antar muka galian (lagged distance) sebagai variabel kontrol dinamis kritis yang menentukan perilaku relaksasi tegangan spasial tiga dimensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi interaksi spasial antara variasi metode konstruksi bertahap dan pengaturan lagged distance terhadap perilaku squeezing melalui pemodelan numerik tiga dimensi (3D) dinamis berbasis Metode Elemen Hingga (Finite Element Method). Evaluasi geomekanika difokuskan pada tiga metode konstruksi utama, yakni Top Heading and Benching (THB), Central Diaphragm (CD), dan Side Drift (SD), pada kondisi batuan lemah. Keandalan kurva degradasi elastoplastis numerik yang dihasilkan kemudian diuji silang (cross-validation) secara empiris menggunakan pangkalan data sekunder dari 103 terowongan historis aktual. Melalui ekstraksi batas regangan (strain) toleransi sebesar 1%, penelitian ini berhasil merumuskan sebuah rekomendasi teknis yang menetapkan batas aman maksimal lagged distance secara kuantitatif guna meminimalkan risiko keruntuhan visko-elastoplastis pada perancangan konstruksi terowongan berdimensi besar.
Perpustakaan Digital ITB