Segmentasi pelanggan merupakan bagian penting dalam manajemen hubungan
pelanggan karena membantu perusahaan memahami perbedaan perilaku
pelanggan dan merancang strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran. Salah satu
pendekatan yang banyak digunakan dalam segmentasi pelanggan adalah model
Recency, Frequency, and Monetary (RFM), yang mengelompokkan pelanggan
berdasarkan seberapa baru pelanggan melakukan pembelian, seberapa sering
pelanggan melakukan pembelian, dan seberapa besar nilai transaksi yang
dihasilkan. Meskipun model RFM praktis dan mudah diterapkan,
kesederhanaannya dapat membatasi kemampuan model dalam menangkap dimensi
perilaku pelanggan yang relevan pada konteks bisnis tertentu, terutama dalam
distribusi ritel business-to-business (B2B), di mana keberlanjutan pembelian dan
keteraturan transaksi menjadi aspek penting. Penelitian ini mengembangkan dan
mengevaluasi model RFM yang disempurnakan dengan menambahkan dua
variabel perilaku, yaitu Loyalty dan Periodicity. Loyalty merepresentasikan
stabilitas pengeluaran pelanggan dalam periode bulanan, sedangkan Periodicity
merepresentasikan keteraturan interval antartransaksi. Model yang diusulkan,
yaitu RFMLP, dirancang untuk memberikan pemahaman yang lebih rinci terhadap
perilaku pelanggan dibandingkan model RFM tradisional. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif berdasarkan data transaksi dari sebuah
perusahaan distribusi ritel B2B di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Setelah
transaksi internal dan transaksi yang tidak relevan disaring, sebanyak 184.000
data transaksi pelanggan eksternal dari 1.151 pelanggan pada periode Januari
2023 hingga Desember 2024 diolah menjadi variabel RFM dan RFMLP pada
tingkat pelanggan. Metode K-Means clustering diterapkan pada model RFM
tradisional dan model RFMLP. Analisis correlation matrix dan Variance Inflation
Factor (VIF) digunakan untuk menilai perbedaan informasi antarvariabel,
sedangkan Silhouette Score digunakan untuk mengevaluasi kualitas hasil
clustering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model RFM tradisional
menghasilkan empat segmen pelanggan dengan Silhouette Score sebesar 0,59,
sedangkan model RFMLP menghasilkan enam segmen pelanggan dengan
Silhouette Score sebesar 0,43. Meskipun model RFM menunjukkan pemisahan
cluster internal yang lebih kuat, model RFMLP memberikan interpretasi bisnis
yang lebih kaya karena mampu membedakan pelanggan berdasarkan stabilitas
pembelian dan keteraturan transaksi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa
model RFMLP dapat melengkapi model RFM tradisional dalam segmentasi
pelanggan pada bisnis distribusi ritel B2B. Model RFM tetap bermanfaat untuk
mengidentifikasi nilai pelanggan berdasarkan perilaku transaksi dasar, sedangkan
model RFMLP memberikan wawasan perilaku yang lebih rinci untuk mendukung
manajemen hubungan pelanggan.
Kata kunci: Analitika Bisnis, Manajemen Hubungan Pelanggan (CRM),
Segmentasi Pelanggan, Model RFM, Model RFMLP, Distribusi Retail B2B.
Perpustakaan Digital ITB