Dalam banyak konteks pertanian, termasuk Indonesia, pestisida masih secara luas
digunakan untuk mengendalikan risiko hama. Penggunaan yang luas ini
menghasilkan peningkatan volume kemasan pestisida pasca-konsumsi yang dapat
menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan apabila tidak dikelola dengan
baik. Di Indonesia, jumlah formulasi pestisida terdaftar meningkat dari 4.271 pada
tahun 2017 hingga mencapai puncak 5.675 pada tahun 2021 dan, meskipun
kemudian menurun, tetap berada pada tingkat yang tinggi yaitu 4.905 pada tahun
2023. Tren ini mencerminkan perluasan berkelanjutan dalam ketersediaan
pestisida serta meningkatnya aliran kemasan di tahap hilir. Namun demikian,
kajian akademik dan pendekatan regulasi yang ada sebagian besar masih berfokus
pada solusi daur ulang yang bersifat operasional serta pengalaman negara-negara
dengan kerangka regulasi yang telah mapan, sehingga pemahaman mengenai
bagaimana pengaturan tata kelola, perilaku pemangku kepentingan, dan regulasi
limbah B3 saling berinteraksi dalam konteks seperti Indonesia masih terbatas.
Penelitian ini mengkaji bagaimana kemasan pestisida kosong saat ini dikelola di
Indonesia serta mengidentifikasi kesenjangan struktural yang menghambat
pengembangan rantai pasok tertutup yang terintegrasi. Pengelolaan kemasan
pestisida kosong dipahami sebagai suatu sistem sosio-teknis yang kinerjanya
dibentuk oleh kondisi tata kelola, bukan semata-mata oleh kapasitas operasional.
Analisis ini menelaah bagaimana interaksi antara aktor, pengaturan kelembagaan,
dan mekanisme umpan balik memengaruhi kepatuhan, pengumpulan, pembersihan,
dan proses daur ulang. Soft Systems Methodology digunakan untuk mensintesis
bukti kualitatif dari wawancara pemangku kepentingan ke dalam diagram lingkar
sebab-akibat yang terintegrasi serta model sistem konseptual, yang selanjutnya
dianalisis melalui pendekatan system dynamics yang bersifat eksploratif.
Mengingat keterbatasan ketersediaan data kuantitatif, variabel-variabel kunci
sistem direpresentasikan menggunakan indeks berbasis proksi untuk
memungkinkan perbandingan perilaku sistem di bawah berbagai skenario
kebijakan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fragmentasi tanggung jawab, ambiguitas
regulasi, serta lemahnya mekanisme umpan balik penegakan hukum menjadi kendala utama kinerja sistem. Akibatnya, peningkatan kesadaran, penyediaan
infrastruktur, atau insentif ekonomi cenderung hanya menghasilkan dampak
jangka pendek apabila diterapkan secara terpisah. Analisis skenario menunjukkan
bahwa intervensi kebijakan yang menargetkan kondisi tata kelola, khususnya
melalui penetapan standar yang lebih jelas, penguatan mekanisme penegakan,
serta peningkatan akses terhadap jalur pengumpulan dan daur ulang yang patuh
terhadap regulasi, berperan dalam menciptakan kondisi struktural yang
memungkinkan intervensi lain menjadi efektif dan saling memperkuat.
Dengan memandang pengelolaan kemasan pestisida kosong sebagai bagian dari
rantai pasok tertutup yang tertanam dalam struktur tata kelola, dan bukan sekadar
sebagai persoalan operasional pengelolaan limbah, penelitian ini memberikan
kontribusi bagi literatur tentang keberlanjutan pertanian dan closed-loop supply
chains. Studi ini juga menawarkan implikasi kebijakan yang relevan bagi regulator
nasional, pemerintah daerah, dan pelaku industri dengan menjelaskan kondisi
kelembagaan yang diperlukan agar sistem pengembalian kemasan pestisida dapat
mencapai hasil lingkungan dan kepatuhan yang berkelanjutan di Indonesia.
Kata kunci: sistem pengembalian kemasan pestisida, tata kelola, keberlanjutan
pertanian, soft systems methodology, system dynamics
Perpustakaan Digital ITB