digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

2026 ARROFIATUZ ZAHRA ABSTRAK
PUBLIC Open In Flipbook Dwi Ary Fuziastuti

Estimasi beban tuberkulosis (TB) yang merepresentasikan suatu wilayah menghadapi tantangan berupa bias kapasitas diagnostik. Hal ini dapat menjadi pemicu kesalahan dalam penentuan fokus intervensi kesehatan. Tingginya angka kasus di suatu wilayah bisa jadi hanya mencerminkan implikasi dari banyaknya alat tes, bukan merepresentasikan beban penyakit yang sebenarnya. Studi ini melakukan analisis dan evaluasi dari kondisi penyakit TB di Provinsi Jawa Barat dengan menyoroti ketimpangan distribusi alat diagnostik, yaitu GeneXpert, dengan mempertimbangkan kondisi sosioekonomi, demografi, dan lingkungan dari masing-masing wilayah. Melalui pendekatan pemodelan inferensi Bayesian, studi ini berhasil membangun model yang mengoreksi bias laporan data kasus akibat persebaran GeneXpert yang tidak merata dan membuktikan bahwa variasi laporan kasus di wilayah yang ada di Jawa Barat saat ini lebih didorong oleh heterogenitas ketersediaan alat diagnostik, sedangkan positivity rate di masyarakat sebenarnya relatif homogen antarwilayah di Jawa Barat. Untuk memahami hubungan kerentanan beban penyakit antarwilayah secara spasial, dilakukan pengonstruksian jaringan yang memetakan konektivitas kerentanan TB berdasarkan kemiripan sosioekonomi dan kedekatan geografis. Jaringan yang terbentuk kemudian dievaluasi melalui beberapa metrik konektivitas, seperti k- Core, Betweenness Centrality, Eigenvector Centrality, dan PageRank Centrality. Lebih jauh, dari evaluasi yang dilakukan pada jaringan teridentifikasi bahwa kawasan Ciayumajakuning sebagai wilayah dengan tingkat prioritas tinggi untuk dilakukan intervensi. Temuan ini memberikan landasan saintifik bagi pemangku kebijakan untuk membuat intervensi dan alokasi sumber daya lebih optimal dan adil, serta hasil dari studi ini dapat memberikan informasi untuk wilayah yang lebih prioritas untuk fokus intervensi ketika sumber daya yang dimiliki terbatas.