Estimasi beban tuberkulosis (TB) yang merepresentasikan suatu wilayah
menghadapi tantangan berupa bias kapasitas diagnostik. Hal ini dapat menjadi
pemicu kesalahan dalam penentuan fokus intervensi kesehatan. Tingginya angka
kasus di suatu wilayah bisa jadi hanya mencerminkan implikasi dari banyaknya
alat tes, bukan merepresentasikan beban penyakit yang sebenarnya. Studi ini
melakukan analisis dan evaluasi dari kondisi penyakit TB di Provinsi Jawa
Barat dengan menyoroti ketimpangan distribusi alat diagnostik, yaitu GeneXpert,
dengan mempertimbangkan kondisi sosioekonomi, demografi, dan lingkungan
dari masing-masing wilayah. Melalui pendekatan pemodelan inferensi Bayesian,
studi ini berhasil membangun model yang mengoreksi bias laporan data kasus
akibat persebaran GeneXpert yang tidak merata dan membuktikan bahwa variasi
laporan kasus di wilayah yang ada di Jawa Barat saat ini lebih didorong
oleh heterogenitas ketersediaan alat diagnostik, sedangkan positivity rate di
masyarakat sebenarnya relatif homogen antarwilayah di Jawa Barat. Untuk
memahami hubungan kerentanan beban penyakit antarwilayah secara spasial,
dilakukan pengonstruksian jaringan yang memetakan konektivitas kerentanan TB
berdasarkan kemiripan sosioekonomi dan kedekatan geografis. Jaringan yang
terbentuk kemudian dievaluasi melalui beberapa metrik konektivitas, seperti k-
Core, Betweenness Centrality, Eigenvector Centrality, dan PageRank Centrality.
Lebih jauh, dari evaluasi yang dilakukan pada jaringan teridentifikasi bahwa
kawasan Ciayumajakuning sebagai wilayah dengan tingkat prioritas tinggi untuk
dilakukan intervensi. Temuan ini memberikan landasan saintifik bagi pemangku
kebijakan untuk membuat intervensi dan alokasi sumber daya lebih optimal dan
adil, serta hasil dari studi ini dapat memberikan informasi untuk wilayah yang lebih
prioritas untuk fokus intervensi ketika sumber daya yang dimiliki terbatas.
Perpustakaan Digital ITB