digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penelitian ini didorong oleh pesatnya pertumbuhan ekosistem startup di Indonesia, yang dikarakterisasi oleh tingkat ketidakpastian yang tinggi serta asimetri informasi yang signifikan dalam pendanaan tahap awal. Dalam kondisi pasar yang volatil ini, manajer modal ventura harus melakukan penyaringan secara ketat terhadap berbagai kriteria investasi yang saling bersaing, sehingga diperlukan pemetaan prioritas strategis guna memberikan transparansi bagi para pendiri startup mengenai ekspektasi investor. Untuk menangkap prioritas tersebut, studi ini menerapkan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) yang melibatkan lima pemodal ventura untuk menyusun pengambilan keputusan VC ke dalam hierarki dua tingkat. Hasil penelitian mengidentifikasi 'Atribut Wirausaha dan Tim' sebagai prioritas utama (Peringkat 1), diikuti oleh 'Atribut Produk dan Layanan' (Peringkat 2), 'Pertimbangan Keuangan' (Peringkat 3), dan 'Faktor Pasar' (Peringkat 4). Pada tingkat sub-faktor, prioritas tertinggi adalah: Pengalaman dan Rekam Jejak Pendiri; Proposisi Nilai; Kejelasan Inovasi dan Diferensiasi; serta Kelayakan Teknis dan Skalabilitas. Sebaliknya, Intensitas Persaingan dan Lanskap Pasar, bersama dengan Lingkungan Eksternal dan Kondisi Sektor, menempati peringkat terendah, di mana seluruh penilaian berpasangan telah memenuhi standar reliabilitas (CR < 0,10). Wawasan kualitatif mengonfirmasi pola pikir yang mengutamakan pendiri, di mana ketangguhan kepemimpinan dan kredibilitas berfungsi sebagai perlindungan utama bagi keberhasilan investasi. Meskipun hierarki memberikan landasan strategis, wawasan para ahli menunjukkan bahwa faktor kontekstual seperti jaringan elit pendiri atau perubahan regulasi yang drastis dapat mengesampingkan protokol evaluasi standar secara sementara. Temuan ini memberikan prioritas yang jelas mengenai kriteria keputusan VC tahap awal di Indonesia, yang menunjukkan bahwa evaluasi tersebut pada dasarnya berpusat pada figur pendiri dan bergantung pada konteks.