digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pemanfaatan biomassa limbah sebagai sumber energi terbarukan penting dalam mendukung transisi energi dan pengurangan emisi karbon di Indonesia. Akan tetapi, biomassa limbah kekurangan pada nilai kalor rendah juga potensi slagging dan fouling yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas biomassa limbah dengan konversi torefaksi multiproses, yaitu kombinasi torefaksi basah (hidrotermal) dan torefaksi kering, serta mengkaji pengaruh konversi multivarian biomassa terhadap karakteristik bahan bakar yang dihasilkan. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi kinerja energi proses menggunakan pendekatan Energy Return on Energy Investment (EROEI) serta mengembangkan model prediksi karakteristik produk. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental pada skala laboratorium menggunakan biomassa limbah multivarian yang terdiri dari jerami, tandan kosong kelapa sawit, dan serbuk gergaji. Proses torefaksi basah dilakukan pada temperatur 180°C, diikuti oleh torefaksi kering pada rentang temperatur 200– 330°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa torefaksi multiproses pada multivarian biomassa mampu menghasilkan bahan bakar padat dengan kualitas energi tinggi, menurunkan kecenderungan slagging-fouling, dan kinerja energi yang layak pada skenario pemanfaatan panas sisa. GCV campuran meningkat menjadi 20,24–22,19 MJ/kg pada komposisi 25% jerami, 25% tandan kosong sawit, dan 50% serbuk gergaji. Indeks slagging menurun menjadi 0,041–0,066, sedangkan indeks fouling menurun 3,51–7,66 akibat reduksi senyawa alkali pada torefaksi basah. Evaluasi EROEI menunjukkan bahwa pada skenario pemanfaatan panas sisa, hasil EROEI > 1 dapat dicapai pada 250-300°C. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah berupa pengembangan pendekatan integratif dalam konversi biomassa, yaitu kombinasi multiproses pada pemrosesan simultan multivarian biomassa sebagai strategi untuk meningkatkan kualitas bahan bakar padat secara simultan dari aspek energi dan operasional. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan teknologi biomassa yang lebih efisien dan aplikatif untuk mendukung implementasi biomassa pada sistem pembangkitan energi di Indonesia.