Penelitian ini mengukur kontribusi integrasi data petir BMKG terhadap performa
deteksi Rapid Developing Thunderstorm–Convection Warning (RDT-CW) dalam
mendeteksi pertumbuhan cepat awan konvektif di wilayah Jakarta dan Lampung
selama Mei 2023–Desember 2025. Data yang digunakan terdiri atas 116 kejadian
konvektif dengan suhu kecerahan puncak awan ? 225 K pada Himawari-9, agar
awan yang dianalisis merupakan awan konvektif yang berkembang signifikan,
dengan syarat data petir dan radar juga tersedia pada waktu yang sama. RDT-CW
dijalankan dalam 2 (dua) konfigurasi paralel, tanpa dan dengan integrasi data petir,
lalu diverifikasi terhadap komposit reflektivitas radar (CMAX) ? 35 dBZ dari Radar
cuaca C-Band Jakarta dan Lampung. Metode verifikasi menggunakan pendekatan
berbasis objek biner dimana tiap sel awan konvektif diidentifikasi untuk kemudian
dicocokkan antara objek RDT-CW dan radar.
Integrasi data petir memberikan kontribusi positif sebesar 1.5 kali terhadap
Probability of Detection (POD) dan Critical Success Index (CSI), mengindikasikan
RDT-CW yang dijalankan dengan integrasi data petir semakin jarang melewatkan
deteksi awan konvektif yang terjadi. Frequency Bias Index (FBI) turut membaik,
menunjukkan RDT-CW semakin jarang mengabaikan jumlah total sistem konvektif
yang terjadi dibandingkan sebelum integrasi petir, sehingga memperbaiki secara
positif kemampuan RDT-CW dalam mendeteksi pertumbuhan cepat awan
konvektif di Jakarta dan Lampung.
Perpustakaan Digital ITB