digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Resistensi antimikroba (AMR) merupakan ancaman kesehatan global yang salah satunya dipicu oleh penyebaran gen resistensi antibiotik (ARG) di lingkungan perairan, termasuk air limbah kota. Di Indonesia, tingginya konsumsi antibiotik tanpa resep serta aktivitas peternakan di wilayah Bandung meningkatkan risiko pencemaran ARG pada aliran air limbah menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Bojongsoang. Bioreaktor membran (MBR) berpotensi menahan biomassa pembawa ARG, namun DNA ekstraseluler bebas dapat lolos dari proses filtrasi fisik, sehingga dikombinasikan dengan disinfeksi ultraviolet (UV) yang bekerja merusak struktur DNA secara fotokimia. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi penyebaran ARG (sul1, tetA, dan blaCTX-M- 15) pada air limbah kota Bandung serta mengevaluasi efektivitas kombinasi MBR dan UV dalam mereduksi kelimpahan gen tersebut. MBR skala laboratorium (volume kerja 4 L, membran hollow fiber 0,01 ?m) dioperasikan secara kontinu selama ±21 hari menggunakan umpan air limbah inlet IPAL Bojongsoang, dilanjutkan dengan disinfeksi UV pada efluen dengan variasi durasi kontak 60, 120, dan 180 detik. Kuantifikasi ARG dilakukan melalui ekstraksi DNA dan analisis qPCR (SYBR Green), dengan normalisasi terhadap gen 16S rRNA pada sampel representatif. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi DNA total menurun 90-99% dari umpan ke efluen MBR, disertai reduksi relatif ARG yang tinggi; sul1 (97,9%), tetA (97,7%), dan blaCTX-M-15 (99,5%) untuk ketiga gen target setelah normalisasi 16S rRNA. Pada tahap pasca-MBR dengan UV 180 detik, reduksi relatif tetap tinggi untuk blaCTX-M-15 (95,6%), namun lebih moderat untuk sul1 (84,9%) dan tetA (78,9%), yang perlu mempertimbangkan penurunan populasi bakteri total akibat UV. Variasi durasi kontak UV pada rentang detik belum menunjukkan hubungan dosis-respons yang konsisten terhadap kelimpahan ARG. Penelitian ini menyimpulkan bahwa MBR memberikan kontribusi reduksi ARG yang signifikan, sementara efek inkremental UV pada rentang durasi yang diuji memerlukan penelitian lanjutan untuk dapat dikuantifikasi secara terpisah.