Interaksi sehari-hari dengan orang terdekat seperti dalam keluarga maupun
komunitas ada kalanya pesan yang dianggap remeh-temeh namun memiliki dampak
pada batin alam bawah sadar. Interaksi yang disebut adalah infantilisasi, di mana
orang lain diperlakukan seolah-olah mereka masih anak-anak, bahkan ketika
mereka sepenuhnya mampu membuat keputusan dan mengurus diri sendiri.
Fenomena tersebut dialami oleh penulis pribadi. Penulis merasa ketidaknyamanan
namun ada perasaan familiaritas yang penulis rasa itu membuat penulis tidak bisa
tinggalkan seluruhnya. Padahal perasaan ketidaknyamanan adalah petunjuk untuk
menghindari agar dapat ke tempat yang lebih baik. Penulis menyadari akan dampak
dari kebanalitasan infantilisasi terbawa ke alam bawah sadar penulis yang
kemudian mempengaruhi perilaku penulis. Perasaan akibat banalitas infantilisasi
ini yang ingin penulis ekspresikan melalui seni lukis. Objek visual yang dipilih
adalah figur yang diabstraksi untuk memperlihatkan sikap serta ketidaklengkapan
tubuh yang satu, jendela dengan pola jalusi rumah betawi, ruang yang terdistorsi
seperti alam mimpi dan bayangan figur. Tugas akhir ini menggunakan metode
eksploratif mencari bentuk sikap dan sapuan kuas untuk membentuk suasana yang
mengekspresikan ketidaknyamanan. Tujuannya untuk menjelaskan
ketidaknyamanan dan familiaritas kebanalan infantilisasi dalam bentuk ruang,
sikap karakter figur melalui sapuan warna dalam karya lukis. Hasil dari tugas akhir
ini mengungkapkan bentuk ruang dengan cahaya temaram kemerahan, bayangan,
jendela merah dalam, bentuk jalusi yang diabstraksikan, dan berbagai sikap figur
menenangkan diri dengan bentuk karakter naif.
Perpustakaan Digital ITB