Protokol pinjaman terdesentralisasi (decentralized lending) menghimpun dana simpanan senilai
miliaran dolar Amerika Serikat tanpa melalui bank atau suku bunga yang diatur secara
administratif, menawarkan imbal hasil di atas suku bunga bank konvensional dari perangkat lunak
yang hampir tidak memiliki biaya operasional marjinal. Penelitian ini mengukur kinerja yang
disesuaikan dengan risiko (risk-adjusted performance), bukan imbal hasil kotor, karena hasil yang
diterima deposan adalah unit penilaian yang relevan. Penelitian ini menganalisis empat pool
pinjaman stablecoin, yaitu Aave v2 dan Compound v2 pada USDC dan DAI, pada enam jendela
peristiwa krisis antara Februari 2022 hingga Desember 2023, dengan pool Aave v3 sebagai
pembanding. Metodologi bersifat kuantitatif menggunakan data sekunder, di mana deret imbal
hasil harian dibangun dari akrual bunga dan pergerakan harga stablecoin, dengan excess return
dihitung terhadap suku bunga Treasury Bill Amerika Serikat tiga bulan; sensitivitas pasar pra
krisis digunakan untuk menghitung abnormal return tiap jendela, dilengkapi estimasi rolling
window, rasio pay-for-risk, dekomposisi imbal hasil ke komponen yield dan harga, serta empat
spesifikasi panel dengan galat baku Driscoll-Kraay. Hasil penelitian menunjukkan lima temuan
utama: eksposur terhadap faktor pasar aset kripto signifikan secara statistik namun kecil secara
ekonomis (0,0022 hingga 0,0025); pada jendela krisis Silicon Valley Bank, risiko meningkat
tanpa disertai kompensasi, dengan volatilitas naik ke 0,0108 dari basis sekitar 0,0004 dan mean
excess return negatif di seluruh pool; sebesar 99,7 hingga 99,9 persen variansi total return berasal
dari pergerakan harga stablecoin, bukan dari yield, sehingga perbandingan total return tidak dapat
mengungkap perbedaan antarprotokol; pada komponen yield saja, kedua protokol berbeda sekitar
0,2 hingga 0,8 persen per tahun, dengan selisih terbesar pada jendela krisis Curve, di mana Aave
beroperasi pada utilisasi 90 persen dengan yield mendekati 11 persen dibandingkan 3,6 persen
pada Compound, meski uji formalnya tidak signifikan sehingga Hipotesis 3 tidak didukung; dan
utilisasi tertunda (lagged utilization) yang lebih tinggi diikuti oleh excess return yang sedikit lebih
tinggi, sebagian bersifat mekanis. Dengan demikian, imbal hasil yang disesuaikan risiko pada
pinjaman stablecoin terdesentralisasi gagal mengompensasi penyedia modal selama krisis yang
diteliti: imbal hasil tidak anjlok, tetapi juga tidak naik sepadan dengan risiko yang ditanggung,
dan annual percentage yield yang tinggi merupakan indikator yang buruk untuk kinerja yang
berkelanjutan karena risiko dominan bersifat spesifik terhadap stablecoin, bukan risiko pasar
secara luas.
Kata kunci: keuangan terdesentralisasi; imbal hasil yang disesuaikan risiko; stablecoin; kelayakan
usaha (venture viability)
Perpustakaan Digital ITB