digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Protokol pinjaman terdesentralisasi (decentralized lending) menghimpun dana simpanan senilai miliaran dolar Amerika Serikat tanpa melalui bank atau suku bunga yang diatur secara administratif, menawarkan imbal hasil di atas suku bunga bank konvensional dari perangkat lunak yang hampir tidak memiliki biaya operasional marjinal. Penelitian ini mengukur kinerja yang disesuaikan dengan risiko (risk-adjusted performance), bukan imbal hasil kotor, karena hasil yang diterima deposan adalah unit penilaian yang relevan. Penelitian ini menganalisis empat pool pinjaman stablecoin, yaitu Aave v2 dan Compound v2 pada USDC dan DAI, pada enam jendela peristiwa krisis antara Februari 2022 hingga Desember 2023, dengan pool Aave v3 sebagai pembanding. Metodologi bersifat kuantitatif menggunakan data sekunder, di mana deret imbal hasil harian dibangun dari akrual bunga dan pergerakan harga stablecoin, dengan excess return dihitung terhadap suku bunga Treasury Bill Amerika Serikat tiga bulan; sensitivitas pasar pra krisis digunakan untuk menghitung abnormal return tiap jendela, dilengkapi estimasi rolling window, rasio pay-for-risk, dekomposisi imbal hasil ke komponen yield dan harga, serta empat spesifikasi panel dengan galat baku Driscoll-Kraay. Hasil penelitian menunjukkan lima temuan utama: eksposur terhadap faktor pasar aset kripto signifikan secara statistik namun kecil secara ekonomis (0,0022 hingga 0,0025); pada jendela krisis Silicon Valley Bank, risiko meningkat tanpa disertai kompensasi, dengan volatilitas naik ke 0,0108 dari basis sekitar 0,0004 dan mean excess return negatif di seluruh pool; sebesar 99,7 hingga 99,9 persen variansi total return berasal dari pergerakan harga stablecoin, bukan dari yield, sehingga perbandingan total return tidak dapat mengungkap perbedaan antarprotokol; pada komponen yield saja, kedua protokol berbeda sekitar 0,2 hingga 0,8 persen per tahun, dengan selisih terbesar pada jendela krisis Curve, di mana Aave beroperasi pada utilisasi 90 persen dengan yield mendekati 11 persen dibandingkan 3,6 persen pada Compound, meski uji formalnya tidak signifikan sehingga Hipotesis 3 tidak didukung; dan utilisasi tertunda (lagged utilization) yang lebih tinggi diikuti oleh excess return yang sedikit lebih tinggi, sebagian bersifat mekanis. Dengan demikian, imbal hasil yang disesuaikan risiko pada pinjaman stablecoin terdesentralisasi gagal mengompensasi penyedia modal selama krisis yang diteliti: imbal hasil tidak anjlok, tetapi juga tidak naik sepadan dengan risiko yang ditanggung, dan annual percentage yield yang tinggi merupakan indikator yang buruk untuk kinerja yang berkelanjutan karena risiko dominan bersifat spesifik terhadap stablecoin, bukan risiko pasar secara luas. Kata kunci: keuangan terdesentralisasi; imbal hasil yang disesuaikan risiko; stablecoin; kelayakan usaha (venture viability)