digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Alex Stefan Sidauruk
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Wilayah Indonesia bagian barat memiliki variabilitas paras muka laut yang kompleks akibat pengaruh proses lokal, muson, dinamika oseanografi regional, serta variabilitas iklim antar-tahunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komponen frekuensi utama paras muka laut pada skala temporal bulanan, membandingkan karakteristik data pasang surut, satelit altimetri, dan luaran model CMIP6, serta mengevaluasi kemampuan satelit altimetri dan model dalam merepresentasikan frekuensi dominan hasil observasi. Penelitian dilakukan di wilayah Indonesia bagian barat menggunakan data bulanan dari 27 stasiun pasang surut dan 27 titik satelit altimetri, serta luaran lima model CMIP6 pada skenario SSP1-2.6 dan SSP5-8.5 pada periode 2015–2022. Data CORS digunakan sebagai data pendukung untuk mengevaluasi kemungkinan pengaruh perubahan posisi vertikal daratan terhadap pengamatan pasang surut. Analisis dilakukan menggunakan metode Lomb–Scargle Periodogram untuk mengidentifikasi frekuensi dominan pada skala interannual, annual, dan semi-annual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data pasang surut memperlihatkan karakter frekuensi yang berbeda antarwilayah. Wilayah Selat Malaka–Karimata–Laut Jawa cenderung didominasi sinyal annual, Barat Sumatra didominasi semi-annual, sedangkan beberapa stasiun di Utara Jawa menunjukkan sinyal interannual sebagai frekuensi primer. Data satelit altimetri menunjukkan pola frekuensi yang relatif serupa dengan pasang surut pada skala bulanan, dengan kesesuaian sebesar 70,37% untuk frekuensi primer dan 74,07% untuk frekuensi sekunder. Luaran model CMIP6 secara umum lebih konsisten merepresentasikan sinyal annual dan semi annual dibandingkan sinyal interannual. Model IPSL-CM6A-LR pada skenario SSP1-2.6 menunjukkan kesesuaian frekuensi primer tertinggi terhadap pasang surut, yaitu 70,37%.