Wilayah Indonesia bagian barat memiliki variabilitas paras muka laut yang
kompleks akibat pengaruh proses lokal, muson, dinamika oseanografi regional,
serta variabilitas iklim antar-tahunan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi komponen frekuensi utama paras muka laut pada skala temporal
bulanan, membandingkan karakteristik data pasang surut, satelit altimetri, dan
luaran model CMIP6, serta mengevaluasi kemampuan satelit altimetri dan model
dalam merepresentasikan frekuensi dominan hasil observasi. Penelitian dilakukan
di wilayah Indonesia bagian barat menggunakan data bulanan dari 27 stasiun
pasang surut dan 27 titik satelit altimetri, serta luaran lima model CMIP6 pada
skenario SSP1-2.6 dan SSP5-8.5 pada periode 2015–2022. Data CORS digunakan
sebagai data pendukung untuk mengevaluasi kemungkinan pengaruh perubahan
posisi vertikal daratan terhadap pengamatan pasang surut. Analisis dilakukan
menggunakan metode Lomb–Scargle Periodogram untuk mengidentifikasi
frekuensi dominan pada skala interannual, annual, dan semi-annual.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa data pasang surut memperlihatkan karakter
frekuensi yang berbeda antarwilayah. Wilayah Selat Malaka–Karimata–Laut Jawa
cenderung didominasi sinyal annual, Barat Sumatra didominasi semi-annual,
sedangkan beberapa stasiun di Utara Jawa menunjukkan sinyal interannual sebagai
frekuensi primer. Data satelit altimetri menunjukkan pola frekuensi yang relatif
serupa dengan pasang surut pada skala bulanan, dengan kesesuaian sebesar 70,37%
untuk frekuensi primer dan 74,07% untuk frekuensi sekunder. Luaran model
CMIP6 secara umum lebih konsisten merepresentasikan sinyal annual dan semi
annual dibandingkan sinyal interannual. Model IPSL-CM6A-LR pada skenario
SSP1-2.6 menunjukkan kesesuaian frekuensi primer tertinggi terhadap pasang
surut, yaitu 70,37%.
Perpustakaan Digital ITB