ABSTRAK Rainendra Dwiarsa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Rainendra Dwiarsa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Rainendra Dwiarsa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Rainendra Dwiarsa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Rainendra Dwiarsa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Rainendra Dwiarsa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Rainendra Dwiarsa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Rainendra Dwiarsa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Rainendra Dwiarsa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Penelitian ini bertujuan untuk lebih memahami cakupan ruang publik dalam
ruangan di Indonesia serta penilaian preferensi karakteristiknya oleh Gen Z yang
menggunakannya sebagai tempat ketiga. Ruang publik dalam ruangan sering kali
terabaikan oleh masyarakat dan pemerintah. Belum banyak upaya yang dilakukan
untuk mengembangkan literatur mengenai ruang publik dalam ruangan, terutama
terkait karakteristiknya. Khususnya bagi Gen Z, banyak ruang publik yang
dirancang tanpa mempertimbangkan kebutuhan mereka, padahal mereka sedang
berada di masa-masa paling produktif. Oleh karena itu, penelitian ini pertama-tama
mendefinisikan cakupan ruang publik dalam ruangan sesuai dengan literatur terkini
dan mengkhususkannya dalam penggunaannya sebagai tempat ketiga. Selanjutnya,
serangkaian karakteristik, baik yang berwujud maupun tidak berwujud,
dirumuskan. Karakteristik-karakteristik ini kemudian dievaluasi oleh sekelompok
ahli akademisi bidang arsitektur dan perencanaan kota menggunakan metode
Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritasnya. Terakhir, GenZ diminta untuk mengurutkan karakteristik-karakteristik tersebut satu sama lain dan
dinilai menggunakan model Improved Rank Order Centroid (IROC) untuk
mendapatkan preferensinya secara statistik. Kedua penilaian tersebut dibandingkan
untuk mengidentifikasi perbedaan dan kesamaan. Berdasarkan hasil survei terhadap
6 ahli dan 177 responden Gen Z, saya menemukan bahwa Gen Z tidak memiliki
kesepakatan terhadap karakteristik apa yang dipreferensikan untuk ruang publik
dalam ruangan. Akan tetapi, secara statistik, penilaian menunjukkan komposisi
preferensi yang hampir sama. Kedua pihak sama-sama mengutamakan aksesibilitas
fisik, fasilitas, keamanan, suasana, dan pengaturan suhu; secara statistik Gen Z
menunjukkan preferensi yang sedikit lebih tinggi terhadap suasana, sedangkan
kelompok ahli yang diteliti menunjukkan preferensi yang sangat kuat terhadap
keamanan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas penelitian
ruang publik dalam ruangan secara keseluruhan dan menjadi serangkaian temuan
mengenai karakteristik apa saja yang mungkin disukai Gen Z dari ruang publik
dalam ruangan sebagai tempat ketiga.
Perpustakaan Digital ITB