Pemanasan global telah meningkatkan frekuensi dan kekuatan gelombang panas
laut atau biasa disebut dengan marine heatwaves (MHWs) yang berdampak buruk
pada ekosistem, seperti memicu pemutihan karang hingga kematian biota laut. Di
Indonesia, perairan selatan Jawa teridentifikasi sebagai salah satu hotspot
kemunculan MHWs meskipun wilayah ini secara alami dikenal sebagai pusat
upwelling yang intens. Untuk memitigasi dampak ekologis tersebut, penelitian ini
mengkaji hubungan karakteristik MHWs dengan variabilitas klorofil-a dalam
kerangka kejadian majemuk (compound events) untuk memetakan risiko
pemanasan laut serta dampaknya terhadap zona potensial penangkapan ikan.
Penelitian ini menggunakan data suhu permukaan laut (SPL) selama 44 tahun
(1982–2025), dan data klorofil-a selama 28 tahun (1998–2025). Seluruh data diolah
menggunakan bahasa pemrograman Python melalui beberapa tahapan utama, di
antaranya data SPL digunakan untuk mengidentifikasi kejadian serta menghitung
metrik MHWs. Kemudian, data klorofil-a dipakai untuk mengidentifikasi kejadian
bluewaves (konsentrasi klorofil-a rendah) dan greenwaves (konsentrasi klorofil-a
tinggi). Selanjutnya, menganalisis hubungan antara MHWs dengan kejadian
bluewaves dan greenwaves. Langkah terakhir membuat peta menggunakan ArcGIS
mengenai pengelompokan tingkat risiko pemanasan laut dan menghubungkannya
dengan zona potensial penangkapan ikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa
perairan selatan Jawa pernah mengalami MHWs ekstrem pada tahun 1998 dengan
intensitas mencapai 4,26 °C selama lebih dari tiga bulan. Hal ini bisa terjadi karena
lapisan air hangat yang tertahan di permukaan menekan proses upwelling dan
memicu fenomena bluewaves dalam jeda waktu 7–20 hari setelah suhu maksimum
tercapai. Oleh karena itu, pendekatan analisis kejadian majemuk ini perlu
diintegrasikan ke dalam sistem peringatan dini dan strategi manajemen sumber
daya perikanan yang adaptif guna memitigasi kerentanan ekosistem di masa depan.
Perpustakaan Digital ITB