digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Tahta Farid Walidain
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Produksi listrik fotovoltaik dikendalikan kondisi atmosfer, tetapi hari berproduksi sangat rendah tidak selalu bersumber dari atmosfer. Penelitian ini mengkarakterisasi variabilitas produksi dan mengatribusikan penyebab kejadian low-solar pada PLTS 10 kWp Gedung CAS ITB menggunakan data monitoring inverter beresolusi satu menit dan data Automatic Weather Station periode 12 Oktober 2024–3 Maret 2026. Kejadian low-solar didefinisikan sebagai hari dengan energi harian di bawah persentil ke-10 (16,87 kWh) dari 420 hari valid berdata radiasi. Atribusi menyilangkan indeks kecerahan harian diturunkan dari data meteorologi sehingga bebas dari kondisi inverter—dengan penanda gangguan sistem dari kode status inverter dan daya per-string. Dari 42 hari low-solar, hanya 3 hari (7,1%) teratribusi atmosferik murni, sedangkan 15 hari (35,7%) gangguan sistem, 15 hari (35,7%) gabungan, dan 9 hari (21,4%) tak terjelaskan; komposisi ini stabil pada rentang ambang P5–P15. Gangguan jalur inverter-2/string-3 menyentuh 43% hari analisis tetapi hanya menghilangkan 669 kWh (4,7% dari potensi): gangguan sistem mendominasi hari berproduksi terendah tanpa mendominasi total energi. Hari low-solar atmosferik bercirikan kelembapan relatif lebih tinggi (90,5% berbanding 81,3%), variabilitas radiasi ber-acuan langit cerah lebih rendah (0,17 berbanding 0,28), dan suhu udara lebih rendah (seluruhnya p < 0,001)— menandakan tutupan awan tebal yang persisten sepanjang hari. Kejadian didominasi hari tunggal (30 dari 35 event; durasi maksimum tiga hari) dan tidak menunjukkan siklus musiman yang dapat ditegakkan pada rekaman 17 bulan, tetapi terkonsentrasi pada fase 4 Madden–Julian Oscillation ketika selubung konvektif berada di atas Benua Maritim (37% berbanding proporsi dasar 13%; p = 0,012 setelah koreksi Bonferroni, bertahan terhadap stratifikasi bulanan). Hasil ini menegaskan bahwa identifikasi low-solar berbasis energi wajib disertai atribusi penyebab sebelum interpretasi meteorologis, sekaligus melandasi pengembangan pemodelan prediksi kejadian low-solar.