Kompleks Vulkanik Adang di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, merupakan
salah satu anomali unsur tanah jarang (LTJ) dan unsur radioaktif terbesar di
Indonesia, tetapi batas keberlakuan metode eksplorasi berbasis spektral pada laterit
tropis belum pernah diuji. Penelitian ini mengintegrasikan geokimia, spektroskopi
reflektansi rentang 350 sampai 2500 nm, morfostruktur dari citra ALOS PALSAR-
1, dan pemetaan alterasi dari citra hiperspektral EMIT pada 38 sampel tanah
permukaan. Hasil geokimia menunjukkan dominasi LTJ ringan dengan rata-rata Ce
740,3 ppm, Th 526,5 ppm, dan U 164,3 ppm. Anomali Eu negatif muncul seragam
pada 37 dari 38 sampel dan pola normalisasi kondrit yang sejajar menunjukkan
sumber magmatik yang sama, sedangkan anomali Ce yang berkisar dari 0,40
sampai 12,95 menjadi penciri kuat pengaruh proses supergen. Pemodelan spektral
hanya berhasil untuk Th dengan R² 0,526 dan RPD 1,47, itu pun melalui proksi
mineral lempung. Nd gagal dimodelkan karena fitur serapan 4f-nya tertutup oleh
serapan oksida besi, sementara Ce dan U tidak memiliki fitur serapan diagnostik
pada rentang 350 sampai 2500 nm dan kadarnya tidak terikat pada mineral yang
aktif secara spektral, karena Ce dikendalikan oleh kondisi redoks dan U cenderung
mobil ketika teroksidasi. Kelurusan didominasi arah timur laut dan barat daya
dengan anisotropi lemah 1,4, sehingga kendali struktur hanya bersifat parsial. Citra
EMIT hanya menyisakan 4,36 persen luas efektif akibat tutupan kanopi yang rapat.
Produk rasio band tidak dapat divalidasi karena keterbatasan cakupan tersebut,
Kemampuan LSU, SAM, dan MTMF diuji terhadap 30 titik geokimia dan
menghasilkan AUC sebesar 0,79, yang menunjukkan daya pisah yang sedang.
Pengayaan LTJ disimpulkan mengikuti model endapan tipe adsorpsi ion pada
regolit yang dikendalikan oleh litologi dan oleh keutuhan profil pelapukan.
Perpustakaan Digital ITB