Abstrak - Azka Madania Nuryasani
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Stunting pada anak merupakan kondisi malnutrisi kronis yang dipengaruhi oleh
disbiosis mikrobiota usus. Paparan bakteri patogen pada pencernaan bayi dapat
ditransmisikan melalui konsumsi Air Susu Ibu (ASI). Penelitian sebelumnya berhasil
mengisolasi Brevundimonas sp. S6I1 dan Enterobacter sp. S3A4 dari sampel ASI ibu
dengan anak stunting yang diduga kuat sebagai kandidat bakteri patogen penyebab
stunting. Salah satu mekanisme pertahanan yang dimiliki bakteri patogen untuk
bertahan hidup di dalam saluran pencernaan inang adalah melalui kemampuan
pembentukan biofilm serta sifat agregasi. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini yaitu:
(1) Menentukan pola pertumbuhan isolat Brevundimonas sp. S6I1 dan Enterobacter sp.
S3A4 melalui kurva pertumbuhan; (2) Menentukan kemampuan pertumbuhan dan
pembentukan biofilm terhadap cekaman yang memimik kondisi lambung (pH 3, 4, 5,
dan 7) serta memimik kondisi usus (pH 4, 5, dan 7 + garam empedu 0,3% (w/v)); (3)
Menentukan konsentrasi minimum pembentukan biofilm; (4) Menentukan kemampuan
auto-agregasi dan ko-agregasi; dan (5) Menentukan profil resistensi antibiotik.
Penelitian dilakukan menggunakan isolat Brevundimonas sp. S6I1 dan Enterobacter sp.
S3A4 dengan media Tryptic Soy Broth (TSB), inkubasi 37°C, dan tanpa agitasi. Kurva
pertumbuhan diukur secara periodik selama 24 jam. Uji kemampuan pembentukan
biofilm dilakukan dengan metode biofilm assay. Penentuan konsentrasi minimum
pembentukan biofilm dilakukan melalui modifikasi konsentrasi inokulum awal.
Kemampuan agregasi diuji melalui uji auto-agregasi, serta uji ko-agregasi
menggunakan berbagai bakteri tantang kandidat patogen, bakteriosin, dan probiotik. Uji
resistensi antibiotik dilakukan menggunakan kit SensiTest Liofilchem. Berdasarkan
hasil penelitian, Brevundimonas sp. S6I1 menunjukkan fase logaritmik pada 21 jam
pertama, sedangkan Enterobacter sp. S3A4 pada 12 jam pertama. Kedua isolat samasama
mampu bertahan pada pH rendah dan pH rendah + garam empedu. Uji
pembentukan biofilm menunjukkan kedua isolat mampu membentuk Strong Biofilm
Former (SBF) pada pH 5 dan pH 7, sedangkan kombinasi garam empedu 0,3% (w/v)
secara signifikan menekan pembentukan biofilm pada pH 4 dan pH 5. Konsentrasi
inokulum 10? CFU/mL merupakan konsentrasi minimum untuk menghasilkan Strong
Biofilm Former. Hasil uji agregasi menunjukkan kedua isolat mampu melakukan autoagregasi
dan uji ko-agregasi dengan beberapa bakteri tantang. Sementara itu, uji
resistensi antibiotik menunjukkan profil intermediet terhadap Amoxicillin, Cefaclor,
Cefixime, Cefonicid, dan Ceftazidime pada kedua isolat, dan intermediet terhadap
Ampicillin, Piperacillin, Azithromycin, Clarithromycin, dan Erythromycin pada
Enterobacter sp. S3A4.
Perpustakaan Digital ITB