digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Azka Madania Nuryasani
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Stunting pada anak merupakan kondisi malnutrisi kronis yang dipengaruhi oleh disbiosis mikrobiota usus. Paparan bakteri patogen pada pencernaan bayi dapat ditransmisikan melalui konsumsi Air Susu Ibu (ASI). Penelitian sebelumnya berhasil mengisolasi Brevundimonas sp. S6I1 dan Enterobacter sp. S3A4 dari sampel ASI ibu dengan anak stunting yang diduga kuat sebagai kandidat bakteri patogen penyebab stunting. Salah satu mekanisme pertahanan yang dimiliki bakteri patogen untuk bertahan hidup di dalam saluran pencernaan inang adalah melalui kemampuan pembentukan biofilm serta sifat agregasi. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini yaitu: (1) Menentukan pola pertumbuhan isolat Brevundimonas sp. S6I1 dan Enterobacter sp. S3A4 melalui kurva pertumbuhan; (2) Menentukan kemampuan pertumbuhan dan pembentukan biofilm terhadap cekaman yang memimik kondisi lambung (pH 3, 4, 5, dan 7) serta memimik kondisi usus (pH 4, 5, dan 7 + garam empedu 0,3% (w/v)); (3) Menentukan konsentrasi minimum pembentukan biofilm; (4) Menentukan kemampuan auto-agregasi dan ko-agregasi; dan (5) Menentukan profil resistensi antibiotik. Penelitian dilakukan menggunakan isolat Brevundimonas sp. S6I1 dan Enterobacter sp. S3A4 dengan media Tryptic Soy Broth (TSB), inkubasi 37°C, dan tanpa agitasi. Kurva pertumbuhan diukur secara periodik selama 24 jam. Uji kemampuan pembentukan biofilm dilakukan dengan metode biofilm assay. Penentuan konsentrasi minimum pembentukan biofilm dilakukan melalui modifikasi konsentrasi inokulum awal. Kemampuan agregasi diuji melalui uji auto-agregasi, serta uji ko-agregasi menggunakan berbagai bakteri tantang kandidat patogen, bakteriosin, dan probiotik. Uji resistensi antibiotik dilakukan menggunakan kit SensiTest Liofilchem. Berdasarkan hasil penelitian, Brevundimonas sp. S6I1 menunjukkan fase logaritmik pada 21 jam pertama, sedangkan Enterobacter sp. S3A4 pada 12 jam pertama. Kedua isolat samasama mampu bertahan pada pH rendah dan pH rendah + garam empedu. Uji pembentukan biofilm menunjukkan kedua isolat mampu membentuk Strong Biofilm Former (SBF) pada pH 5 dan pH 7, sedangkan kombinasi garam empedu 0,3% (w/v) secara signifikan menekan pembentukan biofilm pada pH 4 dan pH 5. Konsentrasi inokulum 10? CFU/mL merupakan konsentrasi minimum untuk menghasilkan Strong Biofilm Former. Hasil uji agregasi menunjukkan kedua isolat mampu melakukan autoagregasi dan uji ko-agregasi dengan beberapa bakteri tantang. Sementara itu, uji resistensi antibiotik menunjukkan profil intermediet terhadap Amoxicillin, Cefaclor, Cefixime, Cefonicid, dan Ceftazidime pada kedua isolat, dan intermediet terhadap Ampicillin, Piperacillin, Azithromycin, Clarithromycin, dan Erythromycin pada Enterobacter sp. S3A4.