GITA OSTENSIA SANDENI PUTRI
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
GITA OSTENSIA SANDENI PUTRI
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
GITA OSTENSIA SANDENI PUTRI
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
GITA OSTENSIA SANDENI PUTRI
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
GITA OSTENSIA SANDENI PUTRI
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
GITA OSTENSIA SANDENI PUTRI
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
Peningkatan emisi karbon dioksida (CO?) mendorong pengembangan teknologi penangkapan CO2 yang efektif, termasuk pendekatan berbasis mikroalga yang mampu mengasimilasi karbon anorganik, seperti CO2, melalui fotosintesis. Galdieria sulphuraria KDM (isolat koleksi Kelompok Keilmuan Biokimia dan Rekayasa Biomolekul ITB dari Kawah Domas, Tangkubanparahu) merupakan mikroalga termoasidofil yang mampu tumbuh pada kondisi sangat asam (pH < 2) dan suhu tinggi hingga 56°C, sehingga berpotensi diaplikasikan dalam sistem penangkapan CO? pada kondisi ekstrem. Meskipun kelarutan CO? menurun pada suhu tinggi, G. sulphuraria KDM tetap menunjukkan pertumbuhan autotrof, yang mengindikasikan adanya adaptasi fisiologis unik dalam sistem fotosintesisnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kapasitas konsumsi CO? dan karakteristik fotosintesis G. sulphuraria KDM sebagai dasar pengembangan teknologi penangkapan CO? berbasis mikroalga termoasidofilik. Penelitian ini meliputi penentuan konsentrasi media pertumbuhan terbaik, penentuan parameter pengukuran konsumsi CO? (intensitas cahaya, volume, dan kerapatan sel), penentuan kapasitas konsumsi CO? menggunakan FL23 Algal CO? Package, serta pengukuran laju evolusi O? menggunakan Oxygraph+ untuk mengevaluasi efisiensi pemanfaatan karbon anorganik (CO? dan HCO??). Hasil penelitian menunjukkan bahwa G. sulphuraria KDM tumbuh lebih baik pada media Allen 1× dan menunjukkan aktivitas konsumsi CO? tertinggi pada intensitas cahaya 2000 µmol foton m?² s?¹, volume sampel 50 mL, serta kerapatan sel 80–100 juta sel/mL pada fase eksponensial. Kapasitas konsumsi CO? pada media Allen 1× pH 0,8 sebesar 8,61 ± 0,99 µmol CO? mg?¹ klorofil jam?¹, sedangkan pada pH 3,0; 6,0; 7,3; dan
9,0 berturut-turut mencapai 13,03 ± 1,77; 12,72 ± 3,55; 14,63 ± 3,54; dan 12,81 ± 1,39 µmol CO? mg?¹ klorofil jam?¹, yang menunjukkan bahwa G. sulphuraria KDM mampu mempertahankan aktivitas fotosintesis pada rentang pH yang luas. Dibandingkan dengan Chlamydomonas reinhardtii, konsumsi CO? G. sulphuraria KDM pada pH 6,0 dan 7,3 masing-masing 1,3 dan 3 kali lebih tinggi. Laju fotosintesis maksimum (Vmax) G. sulphuraria KDM pada pH 6,0 dan 7,3 masing-masing sebesar 83,85 ± 3,73 dan 79,50 ± 8,84
µmol O? mg?¹ klorofil jam?¹, yang setara dengan C. reinhardtii. Namun, pada pH 7,3, G. sulphuraria KDM menunjukkan laju evolusi O? yang lebih tinggi pada seluruh konsentrasi karbon anorganik yang diuji, yang mengindikasikan efisiensi pemanfaatan karbon anorganik yang lebih tinggi pada kondisi ketika HCO?? merupakan bentuk karbon anorganik dominan. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa G. sulphuraria KDM memiliki fleksibilitas fisiologis yang tinggi dalam pemanfaatan karbon anorganik serta mampu mempertahankan fotosintesis secara efisien pada rentang pH yang luas, termasuk kondisi sangat asam hingga basa, sehingga berpotensi kuat untuk dikembangkan sebagai agen penangkapan CO? berbasis mikroalga.
Perpustakaan Digital ITB