2015 TA PP HADI PRASOJO 1.pdf)u
Terbatas Suharsiyah
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Suharsiyah
» Gedung UPT Perpustakaan
CO2 merupakan gas antropogenik utama yang berkontribusi terhadap efek rumah kaca dan pemanasan global. Banyak aktivitas industri yang berkontribusi terhadap perubahan iklim dari pembuangan CO2-nya, yaitu: pembangkit listrik, produksi semen, kilang, industri besi dan baja, industri petrokimia, pengolahan migas, dll. Indonesia, dengan emisi CO2 yang juga terus meningkat, sudah seharusnya melakukan langkah konkrit untuk mengurangi emisi GRK sesuai dengan target yang dicanangkan. Salah satu langkah kongkritnya yaitu dengan pengaplikasian Carbon Capture Storage (CCS) di Indonesia.
Pada studi ini dibahas bagaimana potensi kapasitas penyimpanan (storage capacity) Indonesia, khususnya pada reservoir minyak dan gas. Dibahas pula salah satu contoh studi kasus pembangkit listrik berbahan bakar batu bara sehingga diketahui perkiraan waktu untuk injeksi / penyimpanan emisinya. Kemudian, dibahas sisi ekonomi dari proyek CCS, melalui pembahasan tekno-ekonomi kompresi-pompa, transport, serta injeksi dan penyimpanan CO2.
Sumber literatur utama perhitungan kapasitas penyimpanan berasal dari Carbon Sequestration Leadership Forum (CSLF) sedangkan tekno-ekonomi berasal dari David L. McCollum. Berdasarkan hasil dari studi ini, besar potensi kapasitas penyimpanan karbon (carbon storage capacity) teoritis pada reservoir minyak dan gas di Indonesia secara total berjumlah hingga 6.836,5 MM ton CO2. Adapun, studi kasus emisi dari PLTU Batang yang berkapasitas 2 x 1.000 MW dapat diinjeksikan pada Cekungan East Java selama 16,1 tahun. Biaya injeksi dan penyimpanan CO2 pada formasi geologi di Indonesia berkisar 13,07 - 17,76 $/ton CO2 untuk kompresi dan pemompaan, 2,52 - 44,15 $/ton CO2 untuk transportasi, dan 1,91 - 2,17 $/ton CO2 untuk injeksi dan penyimpanannya.
Perpustakaan Digital ITB