digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Hafizh Afdhalil Ihsan
Terbatas  Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan

COVER Hafizh Afdhalil Ihsan
Terbatas  Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 Hafizh Afdhalil Ihsan
Terbatas  Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Hafizh Afdhalil Ihsan
Terbatas  Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Hafizh Afdhalil Ihsan
Terbatas  Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Hafizh Afdhalil Ihsan
Terbatas  Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Hafizh Afdhalil Ihsan
Terbatas  Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Hafizh Afdhalil Ihsan
Terbatas  Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan

Kontaminasi logam berat seperti besi dalam sistem air merupakan salah satu permasalahan lingkungan fisis yang membutuhkan metode penanganan yang cepat dan akurat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi penurunan kadar besi menggunakan metode elektrokoagulasi dengan konfigurasi elektroda aluminium-aluminium. Untuk menentukan kadarnya digunakan spektrofotometri UV-Vis dengan panjang gelombang ? = 481 nm. Eksperimen dilakukan dengan memvariasikan kuat rapat arus listrik serta konsentrasi awal larutan. Proses pengambilan cuplikan dilakukan dengan interval waktu setiap lima menit. Pemisahan fase dilakukan melalui metode ultrasentrifugasi selama 15 menit untuk mengendapkan partikel flok koloid, sekaligus menghindari efek bias adsorpsi permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elektrokoagulasi memiliki efisiensi penurunan kadar besi yang sangat tinggi dengan efisiensi maksimum pada variasi rapat arus 18.5 mA/cm2 dan 27.75 mA/cm2 yang mencapai 99% pada menit 30. Pada variasi konsentrasi larutan, seluruh sampel mampu menurunkan kadar besinya hingga 95% pada menit ke-5 dan maksimum pada menit 30 sebesar 98- 99%. Selain itu efiseinsi paling optimum pada variasi rapat arus didapat rapat arus 1.85mA/cm2 dengan waktu kontak 30 menit dan pada konsentrasi 10 mg/L diperlukan waktu kontak 5 menit untuk variasi konsentrasi. Hal ini berhasil masuk dalam standar baku mutu pemerintah dengan kadar <1mg/L pada air bersih dan 0.2mg/L pada air minum.