digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kota Bima merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki tingkat kerawanan banjir relatif tinggi dan secara konsisten mengalami kejadian banjir hampir setiap tahun. Salah satu peristiwa banjir terbesar terjadi pada tahun 2016 dan dikategorikan sebagai bencana hidrometeorologi yang signifikan karena menimbulkan dampak luas, antara lain kerusakan infrastruktur, genangan pada kawasan permukiman, serta gangguan terhadap aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem pengendalian banjir yang ada belum sepenuhnya mampu mereduksi risiko banjir secara optimal. Salah satu faktor utama penyebab terjadinya banjir di wilayah ini adalah keterbatasan kapasitas Sungai Sadia dalam menampung debit aliran yang berasal dari hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Sadia, sehingga limpasan air meluap dan menggenangi wilayah sekitarnya, terutama pada saat terjadi hujan dengan intensitas dan durasi tinggi. Sebagai upaya penanggulangan banjir, Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara I (BBWS NT I) melaksanakan penanganan struktural berupa normalisasi Sungai Sadia sepanjang ±4,57 km serta pembangunan revetment pada beberapa segmen sungai yang dinilai rawan terhadap erosi dan limpasan. Namun demikian, efektivitas dari upaya penanganan tersebut dalam mengurangi potensi banjir dan dampaknya terhadap perubahan morfologi dasar sungai masih perlu dievaluasi secara komprehensif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menilai kinerja penanganan struktural yang telah dilakukan dalam mereduksi luas dan kedalaman genangan banjir, serta menganalisis pengaruhnya terhadap proses transpor sedimen dan perubahan morfologi dasar Sungai Sadia. Kajian dilakukan pada segmen Sungai Sadia sepanjang 4,5 km. Analisis hidrologi diawali dengan kajian karakteristik daerah aliran sungai (DAS) untuk menentukan debit masukan menggunakan perangkat lunak HEC-HMS. Data curah hujan yang digunakan bersumber dari satelit Global Precipitation Measurement (GPM) selama periode 24 tahun (2001–2024), yang selanjutnya dikalibrasi dan diuji korelasinya terhadap data curah hujan dari pos pencatatan hujan (PCH) guna meningkatkan keandalan hasil analisis. Penentuan debit banjir rencana dilakukan untuk kala ulang 25 tahun (Q25) melalui pemodelan HEC-HMS, yang dikalibrasi terhadap debit bankfull sungai sehingga metode Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) Nakayasu dipilih sebagai metode yang paling merepresentasikan kondisi hidrologi Sungai Sadia. Analisis hidraulika dilakukan dengan memanfaatkan perangkat lunak HEC-RAS satu dimensi (1D) untuk memperoleh profil muka air sepanjang alur sungai serta HEC-RAS dua dimensi (2D) untuk memetakan sebaran genangan banjir secara spasial. Pemodelan hidraulika disimulasikan dalam tiga skenario, yaitu kondisi eksisting tanpa penanganan, kondisi pasca-penanganan berupa normalisasi sungai dan pembangunan revetment, serta skenario alternatif dengan penambahan struktur pengendali berupa tanggul dan parapet. Selain itu, dilakukan analisis transpor sedimen untuk mengevaluasi perubahan pola sedimentasi dan erosi dasar sungai sebagai dampak dari normalisasi serta alternatif penanganan tambahan berupa pembangunan check dam. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting, Sungai Sadia belum mampu menampung debit banjir rencana Q25 sebesar 167 m³/det. Kondisi ini ditandai dengan terjadinya limpasan di beberapa segmen tinjauan dengan kedalaman genangan berkisar antara 0,1 hingga 4,0 m dan luas genangan mencapai 89,87 ha. Penanganan berupa normalisasi sungai mampu mengurangi luas genangan banjir, namun tingkat efektivitasnya masih terbatas dengan persentase reduksi sebesar 40,74%. Sementara itu, skenario alternatif dengan penambahan tanggul dan parapet menunjukkan kinerja yang jauh lebih efektif, dengan kemampuan mereduksi luas genangan hingga 96,27%. Hasil analisis transpor sedimen menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting terjadi kecenderungan agradasi, dengan volume sedimen terdeposisi sebesar 3.283,06 m³/tahun dan volume erosi dasar sungai sebesar 2.782,89 m³/tahun. Setelah dilakukan normalisasi sungai, laju sedimentasi meningkat menjadi 3.345,97 m³/tahun, atau mengalami kenaikan sebesar 1,91%, sementara volume erosi dasar sungai menurun menjadi 2.491,84 m³/tahun, atau berkurang sebesar 10,45%. Selanjutnya, penerapan skenario alternatif berupa penambahan bangunan check dam mampu menurunkan laju sedimentasi menjadi 3.285,64 m³/tahun dibandingkan kondisi pascanormalisasi, serta mengurangi volume erosi dasar sungai menjadi 2.454,13 m³/tahun. Penurunan laju sedimentasi yang relatif kecil tersebut diduga dipengaruhi oleh lokasi check dam yang berada sekitar 1,6 km dari bagian hulu sungai, sehingga efektivitasnya dalam menahan suplai sedimen dari daerah hulu belum optimal. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penanganan struktural di Sungai Sadia efektif dalam menurunkan risiko banjir, terutama melalui penerapan skenario alternatif tambahan. Namun demikian, permasalahan sedimentasi belum sepenuhnya teratasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pengelolaan DAS yang terintegrasi melalui kombinasi penanganan struktural dan non-struktural, seperti konservasi tanah dan air, reboisasi, serta rehabilitasi vegetasi di wilayah hulu. Sinergi antarinstansi di tingkat pusat dan daerah menjadi faktor penting dalam upaya pengendalian banjir dan pengelolaan sedimentasi secara berkelanjutan