Kota Bima merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki tingkat
kerawanan banjir relatif tinggi dan secara konsisten mengalami kejadian banjir
hampir setiap tahun. Salah satu peristiwa banjir terbesar terjadi pada tahun 2016
dan dikategorikan sebagai bencana hidrometeorologi yang signifikan karena
menimbulkan dampak luas, antara lain kerusakan infrastruktur, genangan pada
kawasan permukiman, serta gangguan terhadap aktivitas sosial dan ekonomi
masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem pengendalian banjir yang
ada belum sepenuhnya mampu mereduksi risiko banjir secara optimal. Salah satu
faktor utama penyebab terjadinya banjir di wilayah ini adalah keterbatasan
kapasitas Sungai Sadia dalam menampung debit aliran yang berasal dari hulu
Daerah Aliran Sungai (DAS) Sadia, sehingga limpasan air meluap dan
menggenangi wilayah sekitarnya, terutama pada saat terjadi hujan dengan intensitas
dan durasi tinggi.
Sebagai upaya penanggulangan banjir, Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara
I (BBWS NT I) melaksanakan penanganan struktural berupa normalisasi Sungai
Sadia sepanjang ±4,57 km serta pembangunan revetment pada beberapa segmen
sungai yang dinilai rawan terhadap erosi dan limpasan. Namun demikian,
efektivitas dari upaya penanganan tersebut dalam mengurangi potensi banjir dan
dampaknya terhadap perubahan morfologi dasar sungai masih perlu dievaluasi
secara komprehensif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menilai kinerja
penanganan struktural yang telah dilakukan dalam mereduksi luas dan kedalaman
genangan banjir, serta menganalisis pengaruhnya terhadap proses transpor sedimen
dan perubahan morfologi dasar Sungai Sadia.
Kajian dilakukan pada segmen Sungai Sadia sepanjang 4,5 km. Analisis hidrologi
diawali dengan kajian karakteristik daerah aliran sungai (DAS) untuk menentukan
debit masukan menggunakan perangkat lunak HEC-HMS. Data curah hujan yang
digunakan bersumber dari satelit Global Precipitation Measurement (GPM) selama
periode 24 tahun (2001–2024), yang selanjutnya dikalibrasi dan diuji korelasinya
terhadap data curah hujan dari pos pencatatan hujan (PCH) guna meningkatkan
keandalan hasil analisis. Penentuan debit banjir rencana dilakukan untuk kala ulang
25 tahun (Q25) melalui pemodelan HEC-HMS, yang dikalibrasi terhadap debit
bankfull sungai sehingga metode Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) Nakayasu dipilih
sebagai metode yang paling merepresentasikan kondisi hidrologi Sungai Sadia.
Analisis hidraulika dilakukan dengan memanfaatkan perangkat lunak HEC-RAS
satu dimensi (1D) untuk memperoleh profil muka air sepanjang alur sungai serta
HEC-RAS dua dimensi (2D) untuk memetakan sebaran genangan banjir secara
spasial. Pemodelan hidraulika disimulasikan dalam tiga skenario, yaitu kondisi
eksisting tanpa penanganan, kondisi pasca-penanganan berupa normalisasi sungai
dan pembangunan revetment, serta skenario alternatif dengan penambahan struktur
pengendali berupa tanggul dan parapet. Selain itu, dilakukan analisis transpor
sedimen untuk mengevaluasi perubahan pola sedimentasi dan erosi dasar sungai
sebagai dampak dari normalisasi serta alternatif penanganan tambahan berupa
pembangunan check dam.
Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting, Sungai Sadia belum
mampu menampung debit banjir rencana Q25 sebesar 167 m³/det. Kondisi ini
ditandai dengan terjadinya limpasan di beberapa segmen tinjauan dengan
kedalaman genangan berkisar antara 0,1 hingga 4,0 m dan luas genangan mencapai
89,87 ha. Penanganan berupa normalisasi sungai mampu mengurangi luas
genangan banjir, namun tingkat efektivitasnya masih terbatas dengan persentase
reduksi sebesar 40,74%. Sementara itu, skenario alternatif dengan penambahan
tanggul dan parapet menunjukkan kinerja yang jauh lebih efektif, dengan
kemampuan mereduksi luas genangan hingga 96,27%.
Hasil analisis transpor sedimen menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting terjadi
kecenderungan agradasi, dengan volume sedimen terdeposisi sebesar 3.283,06
m³/tahun dan volume erosi dasar sungai sebesar 2.782,89 m³/tahun. Setelah
dilakukan normalisasi sungai, laju sedimentasi meningkat menjadi 3.345,97
m³/tahun, atau mengalami kenaikan sebesar 1,91%, sementara volume erosi dasar
sungai menurun menjadi 2.491,84 m³/tahun, atau berkurang sebesar 10,45%.
Selanjutnya, penerapan skenario alternatif berupa penambahan bangunan check
dam mampu menurunkan laju sedimentasi menjadi 3.285,64 m³/tahun
dibandingkan kondisi pascanormalisasi, serta mengurangi volume erosi dasar
sungai menjadi 2.454,13 m³/tahun. Penurunan laju sedimentasi yang relatif kecil
tersebut diduga dipengaruhi oleh lokasi check dam yang berada sekitar 1,6 km dari
bagian hulu sungai, sehingga efektivitasnya dalam menahan suplai sedimen dari
daerah hulu belum optimal.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penanganan struktural di
Sungai Sadia efektif dalam menurunkan risiko banjir, terutama melalui penerapan
skenario alternatif tambahan. Namun demikian, permasalahan sedimentasi belum
sepenuhnya teratasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pengelolaan DAS yang
terintegrasi melalui kombinasi penanganan struktural dan non-struktural, seperti
konservasi tanah dan air, reboisasi, serta rehabilitasi vegetasi di wilayah hulu.
Sinergi antarinstansi di tingkat pusat dan daerah menjadi faktor penting dalam
upaya pengendalian banjir dan pengelolaan sedimentasi secara berkelanjutan
Perpustakaan Digital ITB