Banjir bandang terjadi pada 13 Agustus 2019 menerjang Desa Namo, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah menyebabkan banyak kerugian seperti rumah hanyut dan putusnya jalan akses Palu-Kulawi. Banjir bandang disebabkan curah hujan tinggi dengan durasi 3 jam, sehingga membawa material longsoran berupa batu dan kayu dari hulu. Untuk mengatasi hasl tersebut, dilakukan penangan berupa pembangunan bangunan pengendali sedimen yang terdiri atas 3 (tiga) buah sabo dam, 1 (satu) buah jembatan box culvert, 2 (dua) buah groundsill, dan channel work berupa tanggul beton.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi morfologi Sungai Namo sebelum adanya penanganan dan setelah adanya penanganan serta jika dimungkinkan adanya alternatif penanganan lainnya. Metode yang digunakan adalah dengan pemodelan numerik aliran debris dengan perangkat lunak HEC-RAS 2D. Simulasi aliran debris mengacu pada debit banjir kala ulang 2 tan 100 tahun (Q2 dan Q100).
Berdasarkan hasil pemodelan menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting pada area yang terpengaruh bangunan pengendali sedimen didominasi terjadi degradasi, sedangkan pada area hilir mengalami agradasi. Setelah dilakukan penanganan, pada area yang terpengaruh bangunan pengendali sedimen mengalami peningkatan erosi sebesar 16.397,61 m3 sampai dengan 48.948,98 m3 dibandingkan kondisi eksisting. Sedangkan pada area hilir mengalami peningkatan sedimentasi sebesar 18.521,24 m3 sampai dengan 92.906,02 m3 dibandingkan kondisi eksisting.
Masih adanya peningkatan erosi pada area pengaruh bangunan pengendali sedimen diatasi dengan penanganan alternatif melalui penambahan bangunan 4 (empat) buah groundsill. Hasil simulasi menunjukkan bahwa penanganan tersebut dapat mengurangi erosi pada daerah pengaruh bangunan pengendali sedimen dengan perubahan relatif sebesar 61,51% sampai dengan 62,51% dibandingkan kondisi desain terbangun. Sedangkan pada bagian hilir juga terjadi penurunan agradasi sebesar 72,59% sampai dengan 79,60% dibandingkan kondisi desain terbangun.
Efektivitas tampungan sabo dam dihitung dengan membandingkan volume sedimen yang tertampung dan volume tampungan penuh bangunan. Secara
keseluruhan, efektivitas tampungan sabo dam adalah 25,90% pada kondisi pelaksanaan. Efektivitas paling besar terjadi pada sabo dam 1 sebesar 35,73% dan paling kecil di sabo dam 3 sebesar 20,39%. Untuk penelitian selanjutnya, efektivitas tampungan perlu dihitung dengan memperhatikan faktor lainnya selain nilai tampungan bangunan sabo dam.
Karakteristik Sungai Namo yang berada di pegunungan dengan kemiringan curam mempunyai kecepatan aliran tinggi dan daya erosi yang besar. Hal ini terbukti dengan adanya material sedimen yang terbawa di badan sungai merupakan batuan besar hasil reruntuhan material hulu sungai karena aktivitas tektonik pada 2018. Setelah adanya bangunan pengendali sedimen dan river improvement, karakteristik sungai berubah lebih dalam karena terjadi erosi dan dasar sungai lebih landai karena sedimentasi di beberapa titik khususnya pada bangunan pengendali sedimen. Sedangkan pada bagian hilir, lebar penampang menjadi lebih sempit karena dibatasi adanya channel work berupa tanggul beton.
Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya (Ismail, 2024), pada area pengaruh bangunan pengendali sedimen mengalami penurunan erosi, sedangkan pada bagian hilir mengalami peningkatan erosi. Sedangkan pada kajian kali ini pada area pengaruh bangunan pengendali sedimen mengalami kenaikan erosi dan pada bagian hilir terjadi peningkatan sedimentasi. Hal ini membuktikan bahwa penggantian desain consolidation dam menjadi jembatan box culvert sangat berpengaruh terhadap kemampuan bangunan dalam mengendalikan erosi. Sebaliknya, dengan adanya penambahan groundsill pada bagian hilir mampu mengurangi potensi terjadinya erosi.
Perpustakaan Digital ITB