digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kejadian banjir tertinggi terjadi pada tahun 2022 yaitu berada pada daerah provinsi Jawa Tengah. Daerah Aliran Sungai (DAS) Babakan merupakan salah satu DAS yang terletak di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. DAS Babakan memiliki karakteristik hidrologi yang kompleks, dengan topografi yang cenderung datar dan tingkat hujan yang tinggi, sehingga meningkatkan risiko terjadinya banjir. Berdasarkan Laporan Kejadian Banjir dari BBWS Cimanuk–Cisanggarung, tercatat sebanyak 20 kejadian banjir di Kecamatan Ketanggungan selama lima tahun terakhir (2020–2024). Kejadian banjir paling sering terjadi pada tahun 2020 dan 2023, dengan lima desa terdampak, di mana Desa Ketanggungan menjadi lokasi dengan frekuensi banjir tertinggi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa banjir di wilayah ini bersifat berulang (recurrent flooding). Penelitian ini menganalisis penanganan banjir dalam mereduksi genangan banjir dan pengaruhnya terhadap perubahan morfologi sungai. Obyek penelitian mencakup segmen Sungai Babakan sepanjang 3,90 km, dimulai dari Jembatan Burg Ketanggungan sebagai batas hulu dan Jembatan Sutamaja sebagai batas hilir. Analisis hidrologi menggunakan metode HSS Nakayasu. Analisis Hidraulika berupa permodelam banjir menggunakan HEC-RAS 1D untuk memperoleh profil muka air kondisi eksisting dan HEC-RAS 2D untuk memperoleh luas genangan dan cakupan lokasi banjir pada tiga skenario. Sedangkan pemodelan sedimen dilakukan dengan tiga skenario menggunakan HEC-RAS 1D untuk mengetahui perubahan morfologi dasar sungai di sepanjang lokasi kajian. Hasil analisis karakteristik DAS Babakan membentuk busur yang sesuai dengan Hidrograf Nakaysu dan dengan debit banjir Q20 sebesar 241.860 m3/detik. Hasil pemodelan banjir kondisi eksisting menggunakan HECRAS 1D dengan debit Q20 menunjukan bahwa kapasitas Sungai Babakan belum mampu menampung debit banjir dengan luapan terjadi sepanjang sungai dengan ketinggian mencapai ± 0,50 – 1,50 m. Hasil pemodelan banjir menggunakan HECRAS 2D dengan debit Q20, kondisi eksisting tidak mampu menampung debit banjir sehingga menyebabkan terjadi limpasan yang menggenangi permukiman, persawahan, dan fasilitas umum lainnya dengan tinggi limpasan rata-rata mencapai 0.40 m dan luas genangan seluas 88.76 Ha; kondisi setelah penanganan dengan dua kolam detensi dan peningkatan tanggul sekitar kolam masih mengalami limpasan pada beberapa segmen sungai dengan tinggi limpasan rata-rata sekitar 0,30 m, dengan luas genangan yang tereduksi menjadi 79,07 ha; kondisi penanganan lanjutan berupa peningkatan tanggul Sungai Babakan dengan penambahan tinggi rata-rata 1,00 m pada tanggul kiri dan 1,50 m pada tanggul kanan, yang secara signifikan mampu menghilangkan limpasan sehingga tidak terjadi genangan. Hasil pemodelan sedimen menggunakan HEC-RAS 1D dengan debit andalan Q50 metode FJ Mock selama satu tahun menunjukan bahwa kejadian agradasi didominasi pada kondisi Penanganan I dan Penanganan II pada bagian sungai setelah adanya bangunan pengendali banjir (lateral structure) dengan volume total sebesar 1.835,88 ton/tahun (Penanganan I) dan 1.852,58 ton/tahun (Penanganan II). Sedangkan kejadian degradasi didominasi pada kondisi eksisting dari bagian hulu hingga hilir secara merata dengan volume total sebesar 1.931,95 ton/tahun, namun pada kondisi Penanganan I dan Penanganan II terjadi pada saat sebelum bangunan pengendali banjir hulu dan setelah bangunan pengendali banjir hilir.