Analisis hidrologi dipengaruhi kondisi data curah hujan baik dari segi kualitas
maupun kuantitas. Keterbatasan data menyebabkan pola spasial tidak tertangkap,
maka dibutuhkan data curah hujan grid beresolusi tinggi sebagai alternatif.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan data curah hujan grid optimum dalam
mendukung pemodelan hidrologi di DAS Majalaya serta menganalisis pengaruh
metode koreksi bias terhadap hasil simulasi.
Data curah hujan grid yang digunakan antara lain GPM-IMERG, GSMaP Gauge,
MSWEP V3.16, PERSIANN-CCS, dan ERA-5 Land. Metode bias correction yang
digunakan dalam penelitian ini diantaranya Linear Scaling (LS), Local Intensity
Scaling (LOCI), dan Empirical Quantile Mapping (EQM). MSWEP V3.16 menjadi
data curah hujan grid terbaik. Hasil evaluasi time series menunjukkan metode LS
menghasilkan kesesuaian terbaik dengan MAE 0,277 mm; RMSE 1,166 mm; dan
CC 0,499 mm; sedangkan EQM menunjukkan kesesuaian terbaik terhadap
distribusi observasi dengan MAE 0,303 mm/jam dan RMSE 0,614 mm/jam.
Berdasarkan hasil simulasi banjir tanggal 11 Januari 2024 menggunakan HEC-
HMS menunjukkan bahwa penerapan data curah hujan hasil koreksi dengan metode
LOCI menghasilkan performa terbaik dengan NSE 0,458; PBIAS -6,55%; dan RSR
0,7; serta volume limpasan paling mendekati debit pengamatan. Analisis cross-
correlation menunjukkan bahwa penerapan koreksi bias tidak mengubah
karakteristik temporal data curah hujan, tetapi hanya memperbaiki besarnya curah
hujan sebagai masukan model hidrologi. Secara keseluruhan, pemilihan dataset
curah hujan grid yang optimum dan penerapan metode koreksi bias mampu
meningkatkan kualitas data curah hujan grid serta performa simulasi hidrologi di
DAS Majalaya, dengan setiap metode memiliki keunggulan sesuai tujuan analisis
hidrologi.
Perpustakaan Digital ITB