digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Analisis hidrologi dipengaruhi kondisi data curah hujan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Keterbatasan data menyebabkan pola spasial tidak tertangkap, maka dibutuhkan data curah hujan grid beresolusi tinggi sebagai alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan data curah hujan grid optimum dalam mendukung pemodelan hidrologi di DAS Majalaya serta menganalisis pengaruh metode koreksi bias terhadap hasil simulasi. Data curah hujan grid yang digunakan antara lain GPM-IMERG, GSMaP Gauge, MSWEP V3.16, PERSIANN-CCS, dan ERA-5 Land. Metode bias correction yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya Linear Scaling (LS), Local Intensity Scaling (LOCI), dan Empirical Quantile Mapping (EQM). MSWEP V3.16 menjadi data curah hujan grid terbaik. Hasil evaluasi time series menunjukkan metode LS menghasilkan kesesuaian terbaik dengan MAE 0,277 mm; RMSE 1,166 mm; dan CC 0,499 mm; sedangkan EQM menunjukkan kesesuaian terbaik terhadap distribusi observasi dengan MAE 0,303 mm/jam dan RMSE 0,614 mm/jam. Berdasarkan hasil simulasi banjir tanggal 11 Januari 2024 menggunakan HEC- HMS menunjukkan bahwa penerapan data curah hujan hasil koreksi dengan metode LOCI menghasilkan performa terbaik dengan NSE 0,458; PBIAS -6,55%; dan RSR 0,7; serta volume limpasan paling mendekati debit pengamatan. Analisis cross- correlation menunjukkan bahwa penerapan koreksi bias tidak mengubah karakteristik temporal data curah hujan, tetapi hanya memperbaiki besarnya curah hujan sebagai masukan model hidrologi. Secara keseluruhan, pemilihan dataset curah hujan grid yang optimum dan penerapan metode koreksi bias mampu meningkatkan kualitas data curah hujan grid serta performa simulasi hidrologi di DAS Majalaya, dengan setiap metode memiliki keunggulan sesuai tujuan analisis hidrologi.