digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Muhammad Daffa Azzaini
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Pengeringan merupakan tahap pascapanen dengan kebutuhan energi tinggi, sedangkan cabai merah keriting memiliki umur simpan pendek dan harga yang berfluktuasi. Pengering batch berkapasitas 100 kg yang memanfaatkan energi surya dan uap panas bumi dirancang dan dioptimalkan oleh peneliti untuk kondisi Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut. Penelitian bertujuan mengembangkan model termal–ekonomi terintegrasi, mengevaluasi pengaruh parameter operasi, menentukan konfigurasi optimal dan tangguh terhadap ketidakpastian, serta merancang ruang pengering sesuai batasan lahan dan daya. Model disusun berdasarkan neraca massa dan energi, psikrometri, kesetimbangan sorpsi, persamaan Hottel-Whillier, dan persamaan Ergun. Sebanyak 3.224 titik rancangan dievaluasi menggunakan fungsi desirability lima kriteria. Ketidakpastian dianalisis dengan Latin Hypercube Sampling, bootstrap data cuaca harian, dan Conditional Value at Risk (CVaR). Model diverifikasi terhadap perhitungan independen dengan galat relatif maksimum 1,4 × 10??. Optimasi deterministik menghasilkan kolektor aliran ganda bergelombang V dengan koil bersirip pada 60 °C dan luas 13 m², dengan waktu pengeringan 17,82 jam dan Levelized Cost of Drying (LCOD) Rp2.141/kg air yang diuapkan. Ruang pengering berdimensi 0,772 × 0,551 × 2,450 m dengan 13 rak. Analisis berbasis risiko menghasilkan konfigurasi tangguh berupa kolektor pelat datar aliran tunggal pada 58 °C dan luas 16 m². Perbedaan biaya antar delapan konfigurasi hanya 0,92%, sedangkan variasi NPV didominasi harga bahan baku dan produk. Hasil ini menunjukkan bahwa kelayakan ekonomi lebih dipengaruhi kondisi pasar daripada konfigurasi sistem. Kontribusi penelitian adalah kerangka terintegrasi untuk pemilihan desain pengering hibrida dengan mempertimbangkan kinerja termal, ekonomi, dan ketidakpastian.